Hotspot Terpantau Meningkat di Kalimantan Barat

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis, 21 September 2017. Jumlah hotspot terpantau mulai meningkat, khususnya di Kalimantan Barat. Data satelit NOAA Rabu (20/9/2017) pukul 20.00 WIB,  menunjukkan terpantau 39 titik hotspot.

Rinciannya 24 titik di Kalimantan Barat, 7 titik di Bangka Belitung 7 titik,  3 titik di Jawa Barat, dan 1 titik masing-masing di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Hotspot di Kalimantan Barat juga terpantau cukup tinggi berdasarkan satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level ≥80, yaitu sebanyak 12 titik dari total 22 hotspot  yang terpantau. Sedangkan dari total 62 hotspot yang terpantau satelit TERRA AQUA (LAPAN) confidence level ≥80%, 46 diantaranya berada di provinsi tersebut. Adapun penyebaran hotspot lainnya terdapat di Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan.
 
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Raffles B. Pandjaitan mengataka jumlah hotspot tahun 2017 masih lebih rendah dibandingkan tahun 2016. “Berdasarkan data satelit NOAA sampai saat ini terpantau sejumlah 2.076 titik, dan menurun sebanyak 1.126 titik (35,16%), dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 3.202 titik. Sedangkan data TERRA AQUA (NASA) (confidence level >80%), menurun 1.967 titik (57,04%), dari semula 3.448 titik di tahun 2016, menjadi 1.481 titik”, jelasnya.
 
Menanggapi peningkatan hotspot di Kalimantan Barat, Raffles berpendapat, hal ini dapat disebabkan aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan pada waktu bersamaan, meskipun terdapat batasan-batasan dalam pelaksanaannya.
 
“Di Kalimantan Barat masih menganut kearifan lokal dengan sebutan 7 (tujuh) T, yaitu Tebas, Tebang, Tunu, Tugal, Tanam, Tuai dan Tinggal,” ujar Raffles.
 
Beberapa aturan kearifan lokal tersebut, antara lain diawali dengan acara adat, penyiapan sesajen, keharusan membuat sekat bakar (jika melanggar dan terjadi kebakaran, dikenakan sanski adat), penggunaan Lemang (ketan dalam bambu) sebagai ukuran keberhasilan pembakaran, pembakaran dilakukan perorangan ataupun bersama kerabat, serta sebagian besar pembukaan lahan agar dilaksanakan di areal tanah mineral. (*)

BERITA REKOMENDASI