Hukum Islam tidak Bertentangan dengan Pancasila

Editor: Ivan Aditya

PANGKALPINANG, KRJOGJA.com – Hukum Indonesia tumbuh dinamis yang bersumber dari hukum Islam, hukum adat, hukum Eropa dan asas-asas hukum umum yang universal. Sehingga bisa dikatakan, hukum Indonesia adalah hukum hibrida. Hal itu dikatakan Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Hamdan Zoelva dalam Kongres Ummat Islam Indonesia VII Tahun 2020 di Pangkalpinang, Jumat (28/02/2020).

Karenanya menurut Hamdan Zoelva, perlu mengembangkan hukum Indonesia yang bersumber dari nilai-nilai hukum Islam. Paradigma hukum Indonesia yang diperjuangkan adalah hukum yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila dan UUD yang tidak sama dengan nilai-nilai hukum Barat, kapitalis maupun sosialis, keduanya bersumber dari failsafat materialis dan humanisme semata.

Hukum Pancasila adalah hukum yang bersumber dari ajaran dan nilai-nilai agama yaitu hukum yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab dan berkeadilan sosial. “Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan nilai-nilai hukum Islam,” kata Hamdan.

Menurut Hamdan, kita harus memiliki keyakinan bahwa nilai-nilai hukum Islam tidak akan pernah bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Yang harus menjadi, kata Hamdan, yakni mengarusutamakan pengembangan hukum pada aspek hukum ekonomi yang berkeadilan, yaitu ekonomi kerakyatan.

“Ekonomi yang timpang sekarang ini disebabkan oleh kesalahan dalam kebijakan hukum ekonomi. Telah meninggalkan ekonomi konstitusi dan menerima ekonomi kapitalis,” ujarnya.

Sebelumnya Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Azyumardi Azra dan mantan Menteri Pendidikan Prof M Nuh berharap agar Umat Islam menerima manfaat dari setiap perkembangan dan kemajuan di bidang pendidikan di Indonesia. Tidak ada perdaban yang berkembang tanpa adanya pendidikan yang bagus.

Umat Islam, lanjut Azra, harus banyak bersyukur karena 88 persen warga negara Indonesia adalah Muslim. Apapun manfaat dari kebijakan di bidang pendidikan di Indonesia akan berdampak pada generasi Muslim.

Menurutnya, banyak mitos-mitos di dunia pendidikan Indonesia yang telah terpatahkan. Sekolah-sekolah Islam sekarang sudah bagus dan mengalahkan sekolah-sekolah nonmuslim pada zaman awal-awal kemerdekaan.

Sudah tidak ada mitos bahwa perguruan tinggi Islam swasta tertinggal dari perguruan tinggi negeri.
Universitas Muhammadiyah memiliki auditorium yang besar-besar sudah bisa bersaing dengan kampus nonmuslim yang dulu diklaim sebagai yang terbaik. Ada ribuan pondok pesantren yang dimiliki oleh kiai-kiai NU.

“Banyak teori modernis yang terpatahkan oleh pesantren di Indonesia. Pesantren sekarang memiliki sarpras yang memadai,” kata Azra.

Mantan Menteri Pendidikan M Nuh mengatakan, salah satu fungsi pendidikan adalah menyambungkan masa lalu, masa kini dan masa depan. Pendidikan harus menyambungkan satu fase dengan fase berikutnya.

Proses pendidikan seperti ini sama dengan kaidah yang disampaik oleh Syadina Ali, Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, ujarnya. Hal ini penting karena zaman kian berubah dan Pendidikan harus dapat merespons perubahan zaman.

Pendidikan sebut Nuh, menjadi passport untuk masuk ke dunia global. Karena itu pendidikan juga menjadi ajang kompetisi. Bersainglah dengan pemenang agar dapat menumbuhkan motivasi kuat, katanya. (Fsy)

BERITA TERKAIT