IMF Proyeksi Ekonomi Asia Jadi 5,4 Persen

Editor: Ivan Aditya

BALI, KRJOGJA.com – Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia akan stabil di angka 5,6 persen pada akhir tahun ini. Namun, tahun depan diperkirakan turun ke kisaran 5,4 persen.

Proyeksi ini dirilis IMF melalui laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2018 di tengah pertemuan tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali. IMF tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia dari perkiraan terakhirnya di April 2018.

Direktur Departement Asia Pasifik IMF Changyong Rhee mengatakan pertumbuhan ekonomi Asia tetap stabil sampai akhir tahun ini karena fundamental beberapa negara di kawasan tersebut masih tumbuh dengan baik, meski ada tekanan dari ekonomi global.

"Asia telah membuat kemajuan luar biasa selama beberapa dekade dan sekarang berada di garis depan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Asia menyumbang lebih dari 60 persen ekonomi global," ujar Rhee.

Lebih rinci, ia menjelaskan ekonomi Asia stabil karena perekonomian beberapa negara masih tumbuh meyakinkan. Ia mencontohkan perekonomian China yang diperkirakan tetap stabil di angka 6,6 persen pada tahun ini.

Hal ini karena pemerintah dan bank sentral negara tersebut terus berusaha untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sektor keuangan, meski ada tekanan dari perselisihan dagang dengan AS.

Namun, tahun depan ekonomi Negeri Tirai Bambu diperkirakan akan turun ke 6,2 persen. "Ini sudah menperhitungkan tergerusnya ekonomi sekitar 0,7 persen dari tarif impor AS dan pengimbangan sekitar 0,5 persen peluang pertumbuhan dari stimulus pemerintah," katanya.

Kemudian, sumbangan pertumbuhan ekonomi Asia juga diberikan oleh ekonomi negara-negara di kawasan Asia Tenggara khususnya ASEAN+5 yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Ekonomi negara ASEAN+5 diperkirakan stabil di angka 5 persen. Rinciannya, ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen, Malaysia 4,7 persen, Singapura 2,9 persen, Thailand 4,6 persen, dan Filipina 6,5 persen. (*)

BERITA REKOMENDASI