Indeks Literasi Masyarakat Sumbawa Masih Rendah

Editor: Ivan Aditya

SUMBAWA, KRJOGJA.com – Sebagai kabupaten terluas di provinsi Nusa Tenggara Barat dengan 24 kecamatan, 157 desa, potensi sumber daya manusia  yang banyak, Kab. Sumbawa belum teroptimalkan. Kehadiran Bunda Literasi dan rancangan regulasi yang disusun bisa mengungkit indeks literasi masyarakat Kabupaten Sumbawa.

“Angka indeks literasi masyarakat disini baru 5,17 persen. Dan itu bukan semata tanggung jawab perpustakaan. Peran literasi juga harus dimainkan oleh Dinas Pendidikan mengingat jantungnya pendidikan adalah perpustakaan. Dan Dinas Komunikasi dan Informatika  terkait dengan kampanye literasi digital yang marak dilakukan, ” kata  Bupati Sumbawa Mahmud Abdullah pada kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) di Kabupaten Sumbawa, Rabu (06/10/2021).

Selain itu Perpusnas juga melakukan Memorandum Of Understanding  bersama berbagai perguruan tinggi di NTB. Peserta MoU Perguruan tinggi antara lain Universitas Teknologi Sumbawa, Samawa, Cordova, STKIP Taman Siswa Bima, STKIP Paracendekia NW Sumbawa, STKIP Yapis Dompu, STIH Muhammadiyah Bima, STIE Bima, STA Islam Nahdhatul Wathan Sam0pawa Sumbawa, Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Bima, Pemkab Sumbawa.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan, siapapun anak bangsa, maka sudah menjadi kewajiban penyelenggara negara untuk mencerdaskan anak bangsa dan memastikan SDM berdaya saing. “Siapa yang menguasai Iptek, maka ia akan menguasai dunia,” terangnya.

Maka itu, penguasaan literasi mutlak dimiliki oleh siapapun. Angka buta aksara masyarakat Indonesia kini sudah rendah, hanya menyisakan 4 persen. Jauh lebih baik dibandingkan kondisi saat awal kemerdekaan yang masih 96 persen masih buta aksara.

“Bukan literasi Indonesia yang rendah, tetapi rasio buku dengan penduduk yang jauh dari kondisi ideal. UNESCO mensyaratkan satu orang memerlukan tiga buku baru tiap tahun. Namun, realitanya satu buku ditunggui 90 orang. Jadi, yang terjadi di Indonesia adalah kurang bahan bacaan yang berkualitas dan tepat sasaran kebutuhan,” tambah Kepala Perpusnas.

Semua komponen harus mengambil peran. Peningkatan indeks literasi harus dilakukan secara besar-besaran. Hanya dengan bersinergi, kita bisa mempercepat pembentukan kualitas SDM. Sinergi penting meningkatkan literasi juga didukung pihak legislatif, yakni DPRD Kab. Sumbawa yang telah menginisiasi rancang peraturan daerah (Ranperda) peningkatan gemar baca dan literasi.

Ketua DPRD Kab Sumbawa sangat berharap ranperda ini dapat ditindaklanjuti menjadi rencana kerja pemerintah daerah Sumbawa. “Tanpa regulasi sulit gerakkan literasi. DPRD siap mem-back up,” terang Ketua DPRD Kab. Sumbawa Abdul Rafiq.

Gelora meningkatkan literasi masyarakat juga makin tebal dengan dikukuhkannya sebagai Bunda Literasi Kab. Sumbawa Dewi Noviani oleh Kepala Perpusnas. Bahkan, dalam waktu dekat, Bunda Literasi segera ancang-ancang menyusun regulasi program satu pojok baca tiap desa.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Teknologi Sumbawa Chairul Hudaya mengatakan demi mendukung perbaikan mutu SDM, kampus dipandang perlu untuk mencetak kader-kader atau lulusan yang memiliki jiwa enterpreneur. Artinya, dengan jiwa enterpreneur otomatis akan mendorong mereka untuk terus berpikir kompetitif.

Di samping itu, para mahasiswa juga harus memahami bahwa konsep pengetahuan tidak mesti didapat dari bangku kuliah, tapi bisa juga diperoleh dari luar program studi, seperti dunia usaha atau industri. “Dunia usaha dan industri itu bergerak cepat. Maka, orientasi kampus juga harus link and match dalam mencetak masa depan generasi, ” urai Chairul Hudaya.

Selain menggelar diskusi literasi, pada kesempatan yang sama Kepala Perpusnas juga menjalin kesepakatan bersama (MoU) dengan Pemkab Sumbawa dan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Teknologi Sumbawa, Universitas Samawa, Universitas Cordova, STKIP Taman Siswa Bima, STKIP Paracendekia NW Sumbawa, STKIP Yapis Dompu, STIH Muhammadiyah Bima, STIE Bima, STA Islam Nahdhatul Wathan Sumbawa, dan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Bima. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI