Indonesia Kekurangan Penulis Best Seller

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Rasio buku dengan penduduk di Indonesia menurut kajian yang dilakukan Perpustakaan Nasional adalah 1 : 90. Artinya, satu buku ditunggui oleh 90 orang. UNESCO sendiri telah menetapkan standar ideal satu orang membaca tiga buku.

Disparitas tersebut bisa terus menganga jika yang persoalan yang dipikirkan sebatas budaya baca. Para pegiat literasi, termasuk penulis dan duta baca daerah diminta untuk berani berkarya lewat tulisan sehingga ketimpangan rasio buku perlahan teratasi.

Banyak pihak yang terlalu asyik dengan budaya membaca. Terus berkampanye di fase tersebut. Sejatinya peradaban harus bergerak maju. Ketika sudah terbiasa dengan membaca, maka mulailah belajar menulis.

“Teman-teman pegiat literasi, penulis lokal dan duta baca daerah sebenarnya adalah motor penggerak literasi menulis mengingat tidak banyak penulis best seller di Indonesia. Jadi, perlu ada regenerasi,” kata Duta Baca Indonesia Gol A Gong pada Webinar Duta Baca Indonesia, “Gerakan Indonesia Menulis” : Kreatif Di Era Pandemi, yang digelar secara daring,di Jakarta, Jumat, (24/09/2021).

Gol A Gong juga menyoroti minimnya action yang dilakukan oleh para duta baca daerah yang sedikit sekali menghasilkan karya tulisnya karena tidak banyak yang punya keahlian menulis. Jadi, jangan anggap enteng dengan budaya menulis.

Hal senada turut diungkapkan penulis dan pendiri Benny Institute Benny Arnas. Ketika para duta baca daerah berkampanye, selain harus memiliki pengetahuan dan motivasi dari banyak buku, paling tidak dibarengi dengan kemampuan menulis. “Gerakan menulis adalah gerakan lompatan,” tambah Beni.

Justru Beni melihat kondisi pandemi covid-19 adalah kondisi mewah yang diidamkan bagi penikmat buku dan pegiat tulisan. Pandemi adalah waktu yang tepat untuk merebahkan diri. Aktivitas ini yang banyak diinginkan para pembaca/penulis.

Sementara itu, CEO Penerbit Buku Epigraf Daniel Mahendra menambahkan persoalan menulis merupakan krusial juga. Daniel banyak menjumpai pembaca buku yang potensial menulis namun tidak tahu cara memulainya. Tidak cara menjalin komunikasi dengan penerbit.

Kondisi ketimpangan rasio buku dengan penduduk memantik perhatian dari Perpustakaan Nasional. Segenap terobosan/inovasi berkolaborasi dengan Duta Baca Indonesia disiapkan Perpusnas agar literasi menulis masyakat dapat berkembang.

“Penguatan ekosistem literasi tidak cukup dengan modal membaca. Dengan menggandeng Duta Baca sebagai role model, Perpusnas berharap kolaborasi program penguatan budaya menulis yang dilakukan bersama duta baca dan pegiat literasi banyak menginspirasi masyarakat,” imbuh Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas Adin Bondar.

Persoalan rendahnya rasio buku dengan penduduk masuk ke dalam pembahasan dalam Rencana Pembangunan Pangka Pendek Menengah (RPJMN) 2020-2024. Dalam rencana aksinya, penguatan budaya literasi dapat dilakukan dengan melakukan pengembangan budaya baca, penguatan sistem perbukuan, dan konten literasi, serta peningkatan akses perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Perpusnas berjanji akan terus menjalin kerja sama dan berjuang agar persoalan literasi terselesaikan dengan baik. Semua pihak telah menyepakati bahwa budaya literasi yang baik akan mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang unggul pada 2045, tepat pada usia seabad kemerdekaan. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI