Indonesia Layak Menjadi Tuan Rumah, ‘Cup of Excellence’ Kopi Spesialti

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Demikian pandangan yang disampaikan Mr. Darrin Daniel, Direktur Eksekutif  Alliance of Coffee Excellence secara virtual dari Portland terkait acara peresmian “Cup of Excellence” (COE) yang pertama di Indonesia. Acara diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia (ASKI).

Seraya mengucapkan selamat kepada Indonesia, kopi Indonesia baik Arabika maupun Robusta sudah mendunia. Dijelaskan lebih lanjut bahwa, sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia kopi Indonesia telah menjadi daya tarik sendiri bagi konsumen kopi.

“Proses paska panen, kearifan lokal, keberagaman varietas yang ditunjukkan kopi Indonesia menjadikan unik dan menarik”, kata orang AS yang menggemari kopi Preanger Jabar dan Aceh Gayo ini.

“Cup Of Excellence” telah dimulai di Bandung, Jawa Barat. Dengan membuka pendaftaran bagi para juri nasional yang ingin ikut mencicipi dan menilai kopi-kopi peserta COE. Lalu seleksi  juri nasional bakal berlangsung pada tanggal 20 Agustus 2021.

”Cup of Excellence” adalah pemilihan kopi-kopi dengan karakter dan citarasa luar biasa. Kopi-kopi ini didatangkan dari perkebunan perseorangan maupun dari koperasi yang membawahi sekumpulan para petani, sebelum kopi itu nantinya  mengikuti proses penyeleksian berlapis-lapis. Kegiatan final adalah berupa pelelangan harga untuk kopi terbaik.

Dihadiri oleh para pengusaha kopi, asosiasi eksportir, petani, koperasi dan barista, acara “Cup of Excellence” dibuka oleh Dirjen Pengembangan Ekspor (PEN) Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi. Diteruskan dengan sambutan anggota Tim Diplomasi Kopi Kemlu Dubes Bagas Hapsoro, Ketua ASKI Daryanto Witarsa dan Direktur Eksekutif Alliance of Coffee Excellence, Darrin  Daniel (AS), dan para pengurus ASKI.

Dalam sambutannya Dirjen PEN, Didi Sumedi menyatakan kegembiraannya bahwa kegiatan ini diselenggarakan di Indonesia. Bahkan ini adalah kali pertama COE diadakan di Asia.

Menurut Didi Sumedi, dari sisi ekspor Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Brazil, Kolombia dan Vietnam. Untuk kopi Robusta meski dari sisi volume selalu meningkat namun dari segi value turun. Sedangkan untuk kopi Arabika harga green beans dimana-mana selalu mahal tidak pernah turun.

”Kita menghadapi tantangan dimana-mana antara lain SDM di tingkat para produsen, misalnya para petani menjual dengan kualitas rendah dan borongan. Tantangan lainnya adalah adanya gerakan secara internasional dari sisi standard”, kata Dirjen PEN.

Disebutkan pula beberapa kendala dari mancanegara. ”Saat ini terdapat persyaratan di beberapa negara misalnya kandungan yang bisa diterima di negara tersebut seperti toxic dan pestisida untuk tanaman organik”, kata Didi.

Namun disebutkan bahwa mulai Juli 2021 ini Indonesia menandai dengan rebound yang cukup baik. ”Kinerja kita yang ekspor non-migas termasuk kopi meningkat dengan tajam. Ekspor kita naik dari 155.100 (2020) menjadi 160.000 ton (2021)”, ujar Didi.

Bagas Hapsoro dari Tim Diplomasi Kopi Kemlu menyatakan bahwa Kemlu mendukung penyelenggaraan ”Cup of Excellence”. “Sebagai bagian dari upaya promosi ekspor ke luar negeri, Kemlu dan Perwakilan RI di luar negeri senantiasa mengeksplorasi dan menggarap “niche market” untuk kopi spesialiti khususnya kopi Arabika yang harganya stabil, tidak pernah turun”, ujar Bagas. Dengan luas areal kopi di Indonesia sebesar 1,5 juta Hektar, dan jumlah petani yang terlibat sebesar 1-1,5 juta petani, Indonesia berhasil meningkatkan produktivitas kopi spesialti.

Khusus mengenai diplomasi kopi, tahun ini sejumlah Perwakilan RI juga mengadakan coffee tasting dan coffee cupping. Yaitu KBRI Berlin bekerjasama dengan Coffee Lab 5758 di Bandung berhasil menciptakan katalog cita rasa kopi spesialti. Pada bulan Maret yang lalu Indonesia berhasil mengirimkan kopi Flores Bajawa, Boyolali dan Toraja ke Hamburg.

Sementara itu menurut Bagas, Kemlu dan beberapa Perwakilan seperti KBRI Beijing, KJRI Sydney, KJRI Melbourne, KBRI Seoul telah mengadakan mapping out kekuatan ekspor Indonesia ke pasar negara-negara tersebut. Diharapkan Oktober ini akan ada pengiriman beberapa kontainer (total 36 ton) ke San Fransisco, New York dan Aleksandria, Mesir.   Sebagai bagian dari diplomasi kopi,  mulai tahun ini telah disusun kurikulum kopi di Pusdiklat Kemlu. Kegiatan ”Cup of Excellent” ini akan dikerjasamakan dengan Kemlu.

Daryanto Warsita, Ketua ASKI menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam daftar sepuluh negara penghasil kopi terbaik dunia. Daryanto yang sekaligus juga anggota Steering Committee COE Indonesia menambahkan bahwa Cup of Excellence merupakan ajang kompetisi dengan penghargaan paling bergengsi, yang diberikan untuk biji-biji kopi terbaik di sebuah negara.

Penjurian Nasional bakal berlangsung pada 4-8 Oktober 2021. Langsung disambung dengan penjurian oleh juri Internasional pada 12-15 Oktober 2021. Tahap terakhir dari kompetisi ini tentunya adalah lelang daring yang diikuti semua peserta lelang yang berasal tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari manca negara.

Ajang lelang ini akan berlangsung pada 23 November untuk lelang COE dan 22-3 Desember 2021 untuk kopi-kopi yang menjadi National Winner. Sejauh ini sudah ada 13 negara penghasil kopi dunia yang telah menggelar Cup of Excellence. Antara lain, Brasil, Guatemala, Nicaragua, El Salvador dan Honduras. Lalu ada Bolivia, Kolombia, Kostarika dan Rwanda. Serta Burundi, Meksiko, Peru dan Ethopia.

Apa dampaknya positifnya bagi Indonesia?

Nilai transparansi dan integritas yang dijunjung tinggi dalam program ”Cup of Excellence” ini akan membawa perbaikan dalam pola ekonomi di lapangan. Penghargaan yang layak bagi petani, kelompok tani dan pengolah akan memberikan motivasi untuk meningkatkan mutu serta mendorong keberlanjutan. Awal bulan ini Presiden Jokowi dalam rilis yang dibuat oleh Setneg 6 Agustus 2021 menyampaikan bahwa sektor pertanian selalu unggul, meskipun menghadapi pandemi.

Sektor ini membuktikan menjadi salah satu kekuatan tangguh dan tumpuan ekonomi RI. Saat hampir semua sektor lesu saat pertumbuhan terkontraksi pada 2020, sektor pertanian masih tumbuh positif 1,75 persen. Peluang besar bagi kopi. (*)

BERITA REKOMENDASI