Jadi Anggota MPA, Yani Ikhlas Cegah Kebakaran Hutan

JAKARTA, KRJOGJA.com – Panasnya api dan pekatnya asap tidak menyurutkan semangat Masyarakat Peduli Api (MPA), dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagaimana yang dirasakan M.Yani (42 tahun), seorang petani yang sudah bergabung dalam MPA di Provinsi Kalimantan Tengah, sejak November 2014 silam. 

Bagi Yani, menjadi anggota MPA sudah menjadi panggilan hati karena ingin menjaga lingkungan desanya dari ancaman karhutla. "Kami ingin agar desa kami bebas dari kebakaran, oleh karena itu kami siap mendukung program pemerintah dalam pengendalian kebakaran, dan salah satunya yaitu dengan bergabung menjadi MPA", ujar Yani dengan mantap.
 
Semangat tersebut juga ditularkan Yani kepada masyarakat di desanya, dan dengan perannya sebagai anggota perangkat desa, kini anggota MPA di Desa Tanjung Terantang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, sudah mencapai sekitar 25 orang. "Kami terus melakukan regenerasi untuk keanggotaan MPA, khususnya untuk menggantikan anggota yang cukup tua dan memiliki keterbatasan untuk ke lapangan", ujarnya.
 
Diakui Yani, menjadi MPA memang belum memberikan manfaat secara ekonomi, namun Yani dan rekan-rekan MPA di desanya merasa bangga telah memiliki kemampuan dan pemahaman yang lebih dalam penanganan karhutla, serta ilmu dalam pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB). "Menjadi MPA memberikan pemahaman baru bagi kami, karena sistem pertanian di Kalimantan ini sangat berbeda dengan di Pulau Jawa, yaitu Sistem Tugal. Jadi sekarang kami tahu bagaimana solusi dalam pembukaan lahan yang benar untuk mencegah terjadinya karhutla", tutur Yani bangga.
 
Saat ini ada dua kelompok MPA di Desa Terantang yang dinamakan Kelompok Api Loncat dan Kelompok Bintang Api, dan  pemadaman yang dilakukan pun umumnya  masih dalam skala kecil karena peralatan yang terbatas. Yani juga bersyukur, pemerintah melalui KLHK telah memberikan bantuan beberapa peralatan pada bulan September lalu, dan Yani berharap, selain peralatan, pemerintah juga dapat terus memberikan pelatihan yang kontinu.
 
Sebagaimana di tahun 2015, saat terjadi kebakaran di lahan masyarakat, Yani dan rekan-rekannya melakukan pemadaman pada lahan masyarakat seluas kurang lebih 1 Ha dengan peralatan seadanya, dengan pompa solo, ember, dan ranting kayu. Sekitar 2 jam upaya pemadaman, api baru dapat dikendalikan, meskipun tidak padam sepenuhnya. (*)
 
 

BERITA REKOMENDASI