Jadi Warisan Dunia, Pembelajaran Sejarah Jalur Rempah Perlu Diperkuat

JAKARTA, KRJOGJA.com – Salah satu syarat dalam pengajuan Jalur Rempah sebagai nominasi Warisan Budaya Dunia ke UNESCO adalah bahwa sejarah tentang rempah-rempah harus menjadi kriteria nilai universal yang luar biasa atau outstanding universal value. Dalam hal ini, pemahaman tentang sejarah Jalur Rempah harus hidup di tengah masyarakat.

“Salah satu cara terbaik untuk menghidupkan memori dan makna penting Jalur Rempah adalah melalui pendidikan,” ucap Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Penelitan dan Pengembangan (Balitbang) dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Totok Suprayitno, saat memberi sambutan pada acara pembukaan Webinar Penguatan Pembelajaran Sejarah Jalur Rempah untuk Mendukung Pengusulan Warisan Budaya Dunia ke UNESCO, secara virtual di Jakarta, Jumat (2/10).

Karena itu, lanjut Totok, pemerintah bersama dengan para sejarawan, guru sejarah, dan komunitas sejarah perlu bekerja sama membangun narasi yang kuat mengenai sejarah Jalur Rempah. Narasi tersebut nantinya oleh para guru sejarah diinternalisasikan kepada peserta didik melalui pembelajaran. “Ini adalah salah satu momen di mana kebijakan pendidikan dan kebudayaan dapat berpadu,” imbuhnya.

Balitbang dan Perbukuan khususnya Pusat Penilitan Kebijakan Pendidikan (Puslitkjak), Kemendikbud, berkomitmen mendukung proses nominasi ini melalui kegiatan penelitian dan kajian seperti yang sudah berjalan selama ini. Sebelum nominasi Warisan Dunia (World Heritage) yang mengacu pada Konvensi UNESCO tahun 1972, para peneliti Balitbang telah terlibat setidaknya dalam penyiapan pendaftaran enam warisan budaya sebagai Intangible Cultural Heritage yang mengacu pada Konvensi UNESCO Tahun 2003. Keenamnya adalah: Angklung Indonesia (terdaftar 2010), Tari Saman (terdaftar 2011), Noken (terdaftar, 2012), Tiga Genre Tari Tradisi Bali (terdaftar 2015), Pinisi (terdaftar 2017), dan Pencak Silat (terdaftar 2019).

BERITA REKOMENDASI