Jalur Penerbangan Selatan Jawa Perlu Perbaikan

TANGERANG, KRJOGJA.com – Jalur penerbangan di selatan Pulau Jawa yang resmi dibuka pengoperasiannya untuk penerbangan sipil pertengahan Oktober 2017 lalu, kurang diminati maskapai penerbangan. Alasan waktu tempuh lebih lama dan dinilai kurang efisien menjadikan maskapai belum mau memanfaatkan jalur tersebut untuk rute penerbangannya.

"Permintaan dari maskapai agar jalur itu efisien adalah diperpendek jaraknya," kata Manager Pengendalian Pelayanan AirNav Indonesia, Moeji Soebagyo dalam Seminar Tinjauan Efektivitas Rute Penerbangan Jalur Selatan Serta Dampaknya Terhadap Perekonomian, Pertahanan dan Kedaulatan Nasional yang dilaksanakan oleh Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), di Tangerang, Kamis (01/03/2018). 

Menurut Moeji, maskapai selama ini memanfaatkannya ketika terjadi kondisi luar biasa, seperti cuaca buruk atau ada erupsi gunung berapi. Sementara dalam kondisi normal maskapai lebih memilih jalur utara Pulau Jawa meski sudah cukup padat.

Saat ini, kata dia, jarak dari darat masih 75 nautical mile. Sementara maskapai ingin diperpendek menjadi 50 nautical mile dari daratan. "Jadi, didekatkan lagi dan ini harus dikoordinasikan lagi dengan mengumpulkan pemangku kepentingan untuk ditetapkan dari segi ketahanan, kedaulatan dan ekonomi," ujar Moeji.

Padahal menurut Moeji, pemanfaatan ruang udara  jalur selatan yang dikenal sebagai area T1 (Tanggo 1) secara optimal diyakini akan mengurangi kepadatan pergerakan pesawat udara di jalur utara Jawa yang selama ini menjadi basis utama rute penerbangan maskapai komersial. "Jalur ini sebenarnya sudah ada, makanya kita usul supaya jadi jalur alternatif yang eksisting," jelasnya.

Moeji juga mengatakan, pihaknya selaku BUMN yang melayani navigasi penerbangan nasional akan berupaya untuk mengefektifkan ruang udara jalur selatan. Sebab, jalur ini akan diperlukan ketika jalur utara sudah sangat padat. 

Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Triyanto Muhartono mengatakan, pemanfaatan jalur selatan dinilai masih belum efisien. Dari uji coba yang dilakukan dari Cengkareng menuju Bali, waktu tempuhnya satu jam 34 menit.

Sementara memanfaatkan jalur utara dari Jakarta menuju Bali hanya satu jam 28 menit. "Kondisi ini tentu belum efisien bagi kami di maskapai yang memperhitungkan cost. Namun begitu tetap ada solusi selama belokannya lebih diperkecil atau diperpendek," ujar Triyanto.

Triyanto mengatakan dengan perbedaan waktu enam menit, jumlah avtur yang dikeluarkan juga masih lebih besar atau mencapai selisih 300 kilogram atau 375 liter avtur. "Karena rute ini sudah ada, sebaiknya dimodifikasi lagi supaya bisa lebih efisien. Apakah boleh dipotong jalurnya, kemudian kalau mendarat apakah boleh langsung tanpa harus memutar dan sebagainya," katanya. 

Menurut Triyanto, dengan pemanfaatan ruang udara jalur selatan akan mampu mengurangi kepadatan di jalur utara hingga 30 persen. Apalagi kondisi komunikasi di jalur utara juga kian padat. (Imd)

BERITA REKOMENDASI