Jangan Terprovokasi Ajakan Boikot Produk Prancis

JAKARTA, KRJOGJA.com – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi meminta masyarakat tidak terprovokasi dan tetap menjaga kedamaian di Tanah Air dalam menyikapi ajakan untuk memboikot produk Prancis.

“Kepada masyarakat umat Islam dan bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan aspirasi silakan, tapi dengan tertib, tidak boleh merusak dan harus mengikuti aturan main,” kata Muhyiddin kepada wartawan, di Jakarta, Kamis.

Seruan boikot Perancis terjadi di sejumlah negara di negara Arab seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Direktur Jaringan Moderasi Indonesia Islah Bahrawi mengatakan umat Islam seringkali latah dalam menyikapi isu-isu seperti itu sehingga akan lebih baik menganalisis terlebih dahulu sebuah permasalahan sebelum bersikap.

“Reaksi umat Islam seringkali terjadi karena latah. Ketika sebuah isu meletup dan bergesekan dengan agama, semua orang kadang segera menutup mata, tanpa pernah menganalisa kejadian sebenarnya. Inilah mengapa militansi umat Islam seringkali dijadikan alat bentur untuk pertempuran orang lain,” kata Islah.

Isu boikot ini ternyata juga digunakan oleh beberapa pelaku usaha untuk mengambil keuntungan dengan menyerang produk saingannya.

Arnold Sihombing, Senior Investigator Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) memperingatkan bahwa seruan boikot produk bisa menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.

Senada dengan Arnold Sihombing pengamat dan aktivis sosial media Wicaksono (@ndorokakung) menyatakan bahwa upaya ‘riding the wave’ (menunggangi isu) untuk mencari keuntungan komersial sering ditemukan di jagat sosial media Indonesia.

Dalam twit @ndorokakung Rabu 27 Oktober 2020 lalu, disebutkan bahwa ada orang yang berusaha menunggangi isu sambil menunjukkan tangkapan layar adanya percakapan untuk mencari buzzer (pendengung) di sosial media.

Dalam percakapan tersebut disebut kalau ‘serangan’ buzzer bertema ajakan untuk boikot Aqua menggunakan #aquaprodukperancis akan dimulai Rabu jam 19.00 malam. Dan benar saja, dalam hitungan jam, tagar #aquaprodukperancis naik di trending twitter Rabu malam kemarin.

Wicaksono (@ndorokakung) mengingatkan buzzer ataupun pengguna sosial media untuk hati-hati mengikuti tagar di sosial media. Menurutnya, tagar ataupun trending topik disosial media itu bisa direkayasa. “Tagar itu bisa saja pesanan pihak tertentu. Saya mengingatkan saja, jika itu menyinggung pihak lain, bisa dijerat UU ITE,” jelas Wicaksono.

“Sangat disayangkan kalau isu yang ditunggangi yang sebenarnya isu organik dipelintir menjadi senjata untuk menyerang merek atau produk tertentu yang bisa mendorong persaingan tidak sehat,” kata Wicaksono.

Beberapa warganet sepakat dengan Wicaksono. Salah satunya, @Elang326 yang mempertanyakan, kenapa hanya Aqua yang jadi sasaran warganet. “Iya ya kenapa hanya menyebutkan brand Danone Aqua? Kenapa nggak brand lain seperti LV,YSL dll?” tanya dia, curiga.

“Wah, kalau bener ini kok miris banget ya. Semoga teman-teman bisa lebih bijak pilih-pilih job. Apalagi menyangkut nama baik orang lain. #kamuketahuan #saveaqua,” sambar @RiskaNgilan

Fenomena seruan boikot atas produk sebuah negara sering terjadi di Indonesia setiap kali ada peristiwa Internasional maupun domestik sudah sering terjadi di tanah air. Salah satu yang cukup besar terjadi pertengahan tahun ini dimana ada ajakan untuk memboikot produk Unilever karena dianggap mendukung gerakan LGBT.

“Walaupun ajakan tersebut di media sosial, tapi jika terbukti sebagai perbuatan tidak menyenangkan bisa dijerat hukum. Karena UU ITE itu kan mengatur di sosial media,” jelas Wicaksono. Karena itu, ia menghimbau agar netizen selalu mempetimbangkan apapun yanh disampaikan melalui sosial media. Jangan tergiur bayaran namun berurusan dengan hukum.

Beberapa tokoh agama sudah sering mengingatkan masyarakat untuk cerdas dalam menelaah seruan seruan boikot untuk melihat motif asli dari seruan itu dan dampaknya kepada umat secara luas. Jangan melakukan sesuatu yang ternyata lebih banyak mudhorot (kesia siaan) dibanding manfaatnya. (Fon)

BERITA REKOMENDASI