Jangga Dolok Daya Tarik Wisata Tobasa

MEDAN, KRJOGJA.com – Suku Batak memiliki keanekaragam budaya yang sangat kaya, mulai dari tari- tarian hingga rumah adat tradisionalnya. Keanekaragam budaya merupakan salah satu potensi pariwisata yang harus dikembangkan.

Salah satu rangkaian acara Sarasehan Sinergisitas Diaspora Batak, peserta diajak mengunjungi Jangga Dolok yaitu Rumah Tradisional Batak, Jum'at (7/11). Rumah adat ini  berada di Kampung Lumban Binanga, Desa Jangga Dolok , Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir.
Saat peserta sarasehan datang langsung disambut dengan tari penyambutan, tari Tortor Utte Manis yang diiringi oleh musik Tagading. Penyambutan tarian ini sukses menarik perhatian peserta, mereka banyak mengambil gambar foto dan video menggunakan kamera hp maupun kamera DLSR.

Selain disambut dengan tarian, para peserta juga disajikan penganan khas Batak seperti Kue Lappet. Kue yang dibungkus daun pisang tersebut terbuat dari  tepung beras tumbuk, gula merah dan kelapa parut. Penganan ini biasa dihidangkan pada saat acara pertemuan, pesta, dan acara acara adat.  Mereka terlihat senang dan sangat menikmati sajian kuliner khas batak ini.

Selanjutnya peserta sarasehan diberikan penjelasan mengenai rumah tradisional batak dan menggali potensi yang dapat dikembangkan dan akan menjadi bahan diskusi pada Sarasehan Sinergisitas Diaspora Batak di Hotel Inna.

Salah satu pelaksana pembangunan Rumah Tradisional Jangga Dolok, Sargondoli Manurung menjelaskan Desa Jangga Dolok ini terkenal dengan rumah Batak yang tertua di Tobasa. Rumah ini berumur sekitar 250 sampai 300 tahun. Pada tahun 2016 rumah adat batak ini pernah terbakar. Ada sekitar 5 rumah yang terbakar. Kemudian dibangun  sesuai dengan yang aslinya selama 2 tahun dan selesai pada tahun 2018. Pembangunan rumah ini dibantu oleh donatur Lisa Tirta Utomo, pemilik Aqua.

"Nenek moyang kami dahulu, membangun rumah ini selama 6 tahun secara gotong royong. Dikerjakan secara manual dengan alat alat tradisional, tetapi sekarang ini teknologi sudah maju sehingga pengerjaan bisa lebih cepat," kata Sargondoli.

Menurutnya ada 3 warna dalam rumah adat batak ini. Yakni warna merah, warna putih dan warna hitam. Semua cat menggunakan cat tradisional batak. Cat warna merah dibuat berasal dari batu hula, kemudian cat warna hitam dibuat dari tumbuh- tumbuhan yang dibakar. Ada sekitar 10 jenis tumbuhan dan ditumbuk.  Sedangkan Cat warna putih dibuat berasal dari tanah dari sawah atau sering disebut tanah buro. 

Lebih lanjut Manurung menjelaskan Rumah batak ini dibuat dari bahan kayu terbaik di tanah batak, yaitu kayu poki. Pohon kayu poki sudah langka di daerah Toba ini.

"Kita hanya dapat dari 2 kecamatan di daerah ini. Pengeringan kayu dilakukan secara alami, kita bikin dulu dihutan didiamkan selama 2 bulan kemudian baru kita bawa ditempat yang sejuk. Tiang tiang semua terbuat dari kayu poki, kemudian carving terbuat dari kayu suren. Kelebihan rumah batak dibangun secara tradisional,  tidak menggunakan paku, kemudian menggunakan tali ijuk, mengunakan rotan dan diibangun sesuai aslinya". pungkasnya.

Sementara menurut Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kementerian Pariwisata, Masruroh, sebagai destinasi prioritas, Danau Toba harus terus dipromosikan. (*)

 

BERITA REKOMENDASI