Jemaah Haji Hilang, ‘Scan Barcode’ Saja

Editor: Ivan Aditya

ORANG hilang atau barang hilang masih menjadi problema setiap musim haji. Setiap hari, selalu saja ada orang hilang, tersesat, atau bingung mencari hotel tempat pemondokannya, khususnya para jemaah usia lanjut (lansia). Begitu juga, sering sekali ditemukan barang yang tidak diketahui siapa pemiliknya, atau sulit mendeteksi siapa pemiliknya, apakah itu kopor maupun tas.

Melihat fenomena tersebut, H Hari Basuki berinovasi. Pria asal Bandung ini lantas membuat sistem yang bisa digunakan untuk mendeteksi pemilik barang atau identitas seseorang. Terobosannya ini menggunakan barcode yang bisa discan dengan pesawat handphone yang sudah diinstal barcode scanner melalui playstore.

“Melihat seringnya barang bawaan hilang atau jemaah lansia terpisah dari rombongan, akhirnya saya membuat Sistem Perlindungan Jemaah (Linjam) dengan Media sticker Barcode. Dengan menscan barcode menggunakan HP, bisa mengetahui identitas lengkap Jamaah dan bisa langsung terhubung dengan WA grup rombongannya,” paparnya saat sosialisasi pada Sertifikasi Pembimbing Haji di Asrama Haji DIY baru-baru ini.

Menurut Hari Basuki, linjam dengan media Barcode ini sudah diujicobakan saat dirinya menunaikan Haji di tahun 2019. Saat itu dirinya menjadi Ketua Regu (Karu) jemaah haji JKS 25 Rombongan 7 Karu 1 KBIH KODAM Bandung. “Saya mengalami dan menginventarisir permasalahan yang terjadi, yang saya temukan, yang saya tangani, dan yang saya dapatkan info dari W.A Group Karom,” jelasnya.

Dicontohkan, di Embarkasi banyak jemaah tidak mendengar saat dipanggil bagian penimbangan kopor karena ada barang yang tidak boleh dimasukkan ke dalamnya karena sudah masuk kamar asrama. Kalau di kopor tersebut dipasang stiker barcode, maka petugas akan dengan mudah menghubungi pemiliknya. “Saat di Hotel Madinah, kami menghabiskan waktu sekitar 3 – 4 jam untuk mencari kopor yang ditumpuk di depan lift,” katanya.

Kemudian saat di Masjid Nabawi, hampir setiap hari dirinya menemukan jemaah tersesat atau terpisah dari rombongannya. “Dan saya tidak bisa berbuat banyak karena hanya ada gelang Barcode di lengan jemaah yang tidak tahu fungsinya. Begitu juga saat di Masjidil Haram, frekuensi jemaah tersesat/terpisah dari rombongan sangat banyak,” tambahnya.

Sedang saat di Armuzna, khususnya di Muzdalifah, ada 3 kejadian, yakni tas ransel jemaah tertinggal, kursi roda jemaah hilang dan jemaah sakit tertinggal. Kemudian, saat lempar jumroh kejadian ini membuat panik KAru dan Karomkarena tidak bisa menemukan jemaah tersebut.

Hari menjelaskan, manfaat Sistem Linjam dengan media ‘barcode’ sangat banyak. Antara lain dapat mendeteksi kepemilikan barang bawaan Jemaah (tas koper, tas tenteng/jinjing, tas paspor, tas ransel, kursi roda, dll). Juga dapat membantu menginformasikan jemaah yang tertinggal atau terpisah dari rombongan, bisa membantu tim TKHI dalam menangani jemaah yang sakit bila membutuhkan data-data dari identitas jemaah.

“Cara kerja operasi Sistem Linjam dengan media Sticker Barcode sangat praktis, mudah dan efektif. Hanya dengan scan Barcode yang tertempel pada Jemaah atau barang mereka,” jelasnya.

Secara rinci dijelaskan, tahapan sistem pertama semua jemaah dan petugas haji wajib mendownload barcode scanner di HP masing-masing melalui Playstore. Semua data identitas lengkap jemaah haji juga sudah dipastikan tercetak dengan benar di dalam Sticker Barcode.

Selain itu sudah dibuatkan WA Group tiap Karom. Kemudian sticker barcode dibagikan kepada para jemaah melalui Karu dan Karom. Saat pembagian stiker dilampiri buku panduan/buku saku tentang cara menolong dan ditolong.

Selanjutnya Stiker Barcode harus ditempel pada semua barang bawaan jemaah (tas ransel, tas tenteng/jinjing, tas paspor, HP, Kursi roda, dll). Setiap 1 stiker Barcode berisi data jemaah dan link otomatis ke WA Group Karom.

“Sebelum keberangkatan dan penyerahan koper ke KBIH atau Kemenag, maka setiap jemaah harus scan stiker barcode yang ada pada barang bawaannya untuk memastikan kebenaran identitasnya dan secara langsung masuk ke WA Group Karomsebagai absensi. Jadi semua jemaah dan petugas haji akan lebih tenang, aman, nyaman, terlindungi dan lebih fokus dalam menjalankan ibadah haji. Karena dipastikan bila ada jemaah terpisah atau barang tertinggal, maka akan cepat ditolong,” jelasnya. (Fie)

BERITA TERKAIT