Jokowi Gabung Aksi 212, Strategi Memperbaiki Citra

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Bergabungnya Jokowi bersama dengan massa saat dilaksanakannya aksi 212 membuktikan bahwa Jokowi masih ingin dipandang sebagai pemegang kekuasaan kenegaraan tertinggi. Dengan turunnya Jokowi pada aksi ini juga akan memperbaiki citranya yang pada aksi 411 ia tidak menemui massa aksi.

“Jika dilihat dalam perspektif semiotika komunikasi politik, dengan datang kepada massa aksi membuktikan bahwa sebagai seorang presiden ia mengayomi semua pihak. Jelas juga bahwa ini akan memperbaiki citranya sebagai seorang presiden,” kata Fajar Junaedi dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat dihubungi krjogja.com pada Sabtu, (3/12/2016).

Aksi 212 pada Jumat kemarin juga diwarnai dengan penangkapan beberapa aktivis oleh kepolisian yang diduga melakukan tindakan makar. Datangnya Jokowi kepada massa aksi 212 juga menjadi salah satu strategi komunikasi politiknya.

“Ini berkaitan dengan pemberitaan di media. Media akan lebih mem-blow up berita tentang kedatangan Jokowi daripada memberitakan penangkapan aktivis. Ini terbukti kemarin banyak media yang memberitakan kedatangan Jokowi daripada penangkapan aktivis,” papar Fajar.

Namun, Fajar juga menyoroti tentang represifnya kepolisian dalam penangkapan beberapa aktivis pada Jumat pagi. Menurutnya, hal ini malah akan kembali memperburuk citra pemerintahan Jokowi. “Dampaknya jelas, pasti akan menurunkan kepercayaan publik terhadap demokrasi di Indonesia. Pemerintahan saat ini juga akan dilekatkan dengan citra sebagai penerus mentalitas orde baru,” kata Fajar yang juga merupakan penulis buku 'Komunikasi Politik : Teori, Aplikasi, dan Strategi di Indonesia'.

Kebebasan mengutarakan pendapat, lanjut Fajar, mendapat perlindungan dari konstitusi Indonesia. Hal terpenting saat ini adalah mengawal proses hukum agar berjalan fair. “Sebagai masyarakat sipil yang menguat pasca 1998, penangkapan aktivis ini jelas mencoreng nama baik pemerintahan Jokowi saat ini. Sebaiknya kita hormati proses hukum yang berjalan dan tetap berada di dalam koridor-koridor yang benar,” tutup Fajar. (MG-06)

 

BERITA REKOMENDASI