Jurnalis Berperan Ciptakan Kerukunan Umat

AMBON (KRjogja.com) – Konflik yang terjadi di tengah masyarakat terkadang disulut persoalan yang sangat sepele sehingga tidak seharusnya muncul, seperti yang baru baru ini terjadi di Tanjungbalai, Asahan, Sumatera Utara yang mengarah ke SARA dan mengundang keprihatinan berbagai kalangan.

"Itu peristiwa yang sangat konyol dan tak terlepas dari informasi yang salah dan menyebar di tengah masyarakat. Padahal, peristiwa itu tak harus terjadi," kata Ketua Dewan Penasihat PWI Tarman Azzam dalam Workshop Peningkatan Kerukunan Umat Beragama Tingkat Nasional di Ambon, Jumat (12/8/2016).

Beranjak dari peristiwa Tanjungbalai itu, Tarman mengingatkan dalam menghadapi konflik SARA seorang  jurnalis harus berpegang pada kode etik jurnalistik. Pasalnya, keberadaan seorang jurnalis. adalah orang hebat, pemberani, bermoral dan tanggungjawab.

"Menyadari hal itu keberadaan seorang jurnalis bukan sekadar bisa nulis dan memiliki kebebasan tapi tatap harus memperhatikan norma dan tanggungjawab atas kecerdasan dan ketentraman masyarakat," tutur Tarman.

Jadi, lanjut mantan Ketua PWI Pusat ini, kebebasan jurnalis dalam menyiarkan sesuatu berita jangan mengacu pada azas kebebasan semata. Pasalnya, kebebasan itu ada batasnya yang harus diperhatikan pada sebab dan akibat dari pemberitaan yang disampaikannya.

"Karena itu harus memiliki batasan yang ada pada diri sendiri sehingga bisa mengambil keputusan terbaik sesuai kode etik jurnalistik," kata Tarman seraya menyebutkan, dengan demikian kerukunan umat beragama di Indonesia tidak lepas dari peran seorang jurnalis. (Ful)

 

BERITA REKOMENDASI