Kalbe Farma Tiap Tahun Investasikan Rp 300 M untuk Research and Development

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA , KRJOGJA.com – Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, saat ini kebutuhan atas kesehatan semakin tinggi. Kalbe Farma setiap tahun menginvestasikan dana sekitar Rp 300 miliar untuk Research and Development.

“Pada saat ini peran teknologi dalam dunia kesehatan juga memiliki peran penting terutama dengan adanya digital platform,” kata Vidjongtius pada acara Market Leaders Award 2021, secara virtual, di Jakarta, Selasa (31/08/2021).

Dikatakan, untuk dapat berkembang harus membuka diri melakukan kolaborasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk dengan perusahaan-perusahaan dari luar negeri. “Apabila tidak berkolaborasi kita akan kehilangan momen. Kita harus bersinergi agar kolaborasi tetap langgeng. Kita harus membangun sinergi termasuk dengan industri asuransi. Karena asuransi dan kesehatan merupakan satu kesatuan untuk membangun bangsa ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum DAI Tatang Nurhidayat mengatakan bahwa tahun 2020 dunia diguncang pandemi Covid-19 yang memaksa berbagai negara mengurangi aktivitas ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi semua negara kembali tertekan. Pertumbuhan beberapa negara mengalami kontraksi, dan sebagian lainnya masih tumbuh positif meski jauh dibawah pertumbuhan normal.

Menurut Tatang, pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebagian besar wilayah tumbuh lebih lambat. Seluruh komponen pengeluaran menunjukkan perlambatan yang cukup signifikan. Kinerja tersebut terkait dengan adanya penyebaran wabah Covid-19. Lalu bagaimana dengan pertumbuhan asuransi nasional selama tahun 2020?

“Dalam kondisi seperti ini, ada beberapa perusahaan asuransi besar telah mencatatkan kinerja yang beragam, ada yang preminya naik tetapi ada juga yang terkontraksi. Terlepas dari hal itu ada perusahaan-perusahaan asuransi jiwa dan umum menjadi penguasa pasar yang sebagaimana ditunjukan dari hasil kinerja keuangan yang lebih besar dibandingkan dengan asuransi lainnya,” ungkap.

Sementara itu, Pimpinan Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) Mucharor Djalil menjelaskan, LRMA merupakan lembaga di bawah Media Asuransi, sudah melakukan kajian selama 8 tahun (2013-2020) terhadap Laporan Keuangan Publikasi perusahaan asuransi jiwa dan umum di Tanah Air.

Untuk market leaders ini, LRMA menyeleksi 15 perusahaan asuransi jiwa terbesar berdasarkan pendapatan premi dan 15 perusahaan asuransi umum terbesar berdasarkan premi yang diperoleh di sepanjang 2020.

Menurut Djalil, 15 perusahaan asuransi jiwa menguasai pasar asuransi jiwa 81,97 persen di Indonesia. Sedangkan, 15 perusahaan asuransi umum menguasai pasar asuransi umum 65,46 di Indonesia. Artinya, perusahaan-perusahaan asuransi yang merupakan market leader ini harus mendapatkan perhatian karena menentukan arah dan pengembangan asuransi di Tanah Air.

LRMA dalam melakukan kajian menggunakan 9 indikator keuangan dalam laporan keuangan publikasi per 31 Desember 2020 dari 30 perusahaan asuransi jiwa dan umum. Yakni, pendapatan premi, pendapatan premi neto, klaim dibayar, beban klaim dan manfaat dibayar, investasi, hasil investasi, ekuitas, aset, dan laba bersih.

“LRMA menetapkan ada 15 perusahaan asuransi jiwa dengan pendapatan premi terbesar di tahun 2020 dan 15 perusahan asuransi umum dengan premi bruto terbesar tahun 2020 yang telah lolos seleksi,” tegasnya.

Berdasar kajian LRMA, dampak pertumbuhan ekonomi yang rendah ini langsung dirasakan industri asuransi. Hasil riset LRMA menunjukkan perolehan premi bruto industri asuransi umum 2020 mengalami kontraksi sebesar 3,79 persen menjadi Rp 57,66 triliun dibandingkan 2019 sebesar Rp 59,93 triliun.

Untuk pertumbuhan premi bruto 15 perusahaan asuransi umum dengan perolehan premi bruto terbesar (general insurance market leaders) terkoreksi tipis 0,62 persen menjadi Rp 37,74 triliun dibandingkan perolehan 2019 sebesar Rp 37,98 triliun.

Dari sisi itu, terlihat sebagian besar perusahaan asuransi umum yang masuk daftar 15 terbesar di industri ini, market share-nya atas premi bruto meningkat. Kajian LRMA menunjukkan bahwa market share 15 perusahaan general insurance market leaders ini per 31 Desember 2020 sebesar 65,46 persen, meningkat dibandingkan market share 2019 sebesar 63,37 persen.

Mayoritas posisi 15 besar general insurance market leaders 2021 masih diisi oleh nama-nama lama yang tahun sebelumnya juga masuk jajaran 15 general insurance market leaders. Kajian ini dilakukan berdasar data 70 perusahaan dari 73 asuransi umum yang telah mempublikasikan laporan keuangan per 31 Desember 2020, di luar asuransi umum syariah full fledged. Sedangkan tiga perusahaan belum mempublikasikan neraca keuangannya sampai artikel ini naik cetak.

Sementara itu, di industri asuransi jiwa, total pendapatan premi di sepanjang 2020 menjadi Rp 168,19 triliun dibandingkan perolehan 2019 sebesar Rp 165,54 triliun. Sejalan dengan itu, pendapatan premi 15 perusahaan asuransi jiwa dengan pendapatan premi terbesar (life insurance market leaders) mencatatkan pertumbuhan pendapatan premi sebesar 4,06 persen menjadi Rp 139,79 triliun pada 2020 dibandingkan perolehan 2019 sebesar Rp 134,33 triliun.

Ke-15 life insurance market leaders ini menguasai market share sebesar 83,11 persen atau naik dibandingkan 2019 yang hanya 81,15 persen. Mayoritas posisi 15 besar life market leaders pada 2020 juga diisi oleh nama-nama lama yang tahun sebelumnya juga masuk jajaran 15 life insurance market leaders.

Untuk asuransi jiwa, kajian dilakukan atas data 47 perusahaan dari 53 perusahaan asuransi jiwa di Tanah Air, di luar perusahaan asuransi jiwa syariah full fledged dan ada 6 perusahaan asuransi jiwa yang belum mempublikasikan neraca keuangannya sampai artikel ini naik cetak.

Penguasa bisnis asuransi jiwa di Tanah Air belum banyak bergeser, meski sejak Maret 2020 datang wabah Covid-19, LRMA mencatat perusahaan asuransi jiwa yang masuk dalam 15 Market Leaders 2021 hanya mengalami satu pergantian perusahaan, dan 14 perusahaan lainnya masih sama seperti tahun sebelumnya. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI