Kalimantan Sebagai Salah Satu Masa Depan Dunia

Editor: Ivan Aditya

BANJARMASIN, KRJOGJA.com – Bekerjasama dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), beberapa diplomat senior Kemlu yang merupakan alumnus Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) Angkatan X mengadakan acara bedah buku secara virtual. Acara yang diselenggarakan tanggal 24 Juni 2021 tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan Fisip ULM, Prof Dr. Asmu’i.

Para nara sumber adalah Dr. Abdurrahman M. Fachir, Wakil Menlu RI (2014-2019), Bagas Hapsoro, Dubes RI untuk Swedia (2016-2020) dan Taufiq Rhody (Konjen RI di Penang periode 2014-2016). Topik yang dibahas antara lain fungsi dan tugas diplomat, contoh konkrit pelaksanaan diplomasi dan ‘the way forward’ langkah kedepan yang perlu menjadi perhatian para pemangku kepentingan baik pusat maupun daerah.

”Kita beruntung dikaruniai Pulau Kalimantan. Pengelolaan Kalimantan merupakan jawaban konkrit terhadap masa depan kebutuhan manusia dan alam. Namun dengan catatanasalkan diatur dengan baik,” papar Bagas mengawali pembicaraan.

Dalam hal ini diambil sebagai contoh kerjasama Indonesia dan Finlandia mengenai Keanekaragaman Hayati, sebagaimana ditulis oleh Dubes Wiwiek Setyawati Firman di Buku Kiprah Diplomat Indonesia (Terbitan Gramedia, halaman 129).

”Kita tentu telah mengetahui bahwa Finlandia berserta negara-negara Nordik lainnya merupakan kelompok negara terkemuka dalam memajukan agenda lingkungan hidup, pembangunan berkelanjutan, dan perubahan iklim,” ujar Bagas.

Dengan mempertimbangkan nilai strategis tata kelola kebun perkotaan dalam mendukung sasaran-sasaran Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), KBRI Helsinki sebagai perwakilan salah satu negara mega biodiversity di dunia, telah memperkuat kerja sama dengan pengelola Kumpula Allotment Garden, yang merupakan allotment garden tertua kedua di Helsinki.

Hal ini mengingat penguatan mandat CBD oleh Indonesia, antara lain melalui pembangunan kebun di perkotaan berdasarkan konsep pembangunan kota yang berkelanjutan. ”Kalimantan dengan hutannya menjadi surga bagi banyak makhluk hidup khas Indonesia. Banyak tumbuhan dan binatang langka bahkan satu-satunya di dunia, hidup dan berkembang biak di kawasan Borneo ini,” kata Bagas yang pernah 3 tahun sekolah di Banjarmasin itu.

Dubes A.M. Fachir, Wakil Menlu RI periode 2014-2019 menyatakan bahwa potensi ”Banua” (Kalsel) perlu dikerjasamakan. Civitas academica menurut Fachir juga pelaku diplomasi. Oleh karena itu kerjasama dengan civil society atau LSM akan memberikan nilai penting untuk kepentingan Kalsel.

”Ada korelasi dan kombinasi kuat antara potensi di Banua dengan karakter orangnya”, kata Fachir. Karakter orang Banjar antara lain adalah merantau, untuk itu mereka selalu ingin sukses. ”Nah kembali ke Banjar, diperlukan sinergi antar para pemangku kepentingan. Jangan sampai nanti akademisi kemana tetapi praktisi kemana”, tegas Fachir.

Sejalan dengan amanat konstitusi, jelas Dubes Fachir, maka siapapun presiden atau menteri luar negeri yang tengah memimpin, maka mereka tetap mengemban amanat yang sama. “Mereka harus mampu melaksanakan amanat tersebut dan menerjemahkannya ke dalam politik luar negeri, hubungan dan kerjasama luar negeri dan juga diplomasi,” paparnya.

Lebih lanjut mantan Wamenlu RI ini juga menjelaskan soal politik luar negeri Indonesia yang khas. “Ini yang membuat beda politik luar negeri kita dengan teori-teori yang umum berlaku; kita selalu mengedepankan kemaslahatan daripada sekedar kepentingan nasional,” jelas Fachir. (*)

BERITA REKOMENDASI