Kebakaran Hutan di Taman Nasional Gunung Ciremai Berhasil Dipadamkan

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kebakaran hutan di lereng batas kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Provinsi Jawa Barat, berhasil dipadamkan petugas Balai TNGC, bersama-sama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, pada pukul 02.00 WIB (22/09/2017). Belum diketahui apa penyebab kebakaran yang terjadi sejak Kamis (21/09/2017) sekitar pukul 10.00 WIB ini, karena proses inventarisasi masih berlangsung.

Kepala Balai TNGC, Padmo Wiyoso menjelaskan bahwa, lokasi kebakaran merupakan lahan berbatu bekas pertambangan, dan vegetasi yang terbakar adalah alang-alang.

“Kebakaran yang terjadi cepat meluas karena cuaca terik dan kondisi angin yang kencang. Pihak TNGC sudah melakukan pencegahan dengan membuat sekat bakar, untuk mengantisipasi agar kebakaran tidak meluas," jelas Padmo.

"Sampai dengan saat ini, masih dilakukan upaya mopping up/ pendinginan pada lokasi kebakaran untuk memastikan kebakaran tidak tersisa," lanjutnya.

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor : 248/KPTS/DJ-VI/1994, tentang Prosedur Tetap Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan, sekat bakar dibuat dengan membersihkan jalur/alur pemisah antara sumber api, dengan akumulasi bahan bakar. Sekat bakar ini berfungsi untuk untuk melokalisir api agar tidak merambat ke tempat lain yang lebih luas.

Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles B. Panjaitan, dalam berbagai kesempatan, bahwa selain sosialisasi dan pemasangan rambu-rambu, masyarakat juga dihimbau untuk membuat sekat-sekat bakar, sebagai upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Keberhasilan pencegahan karhutla tentu perlu didukung oleh semua pihak, khususnya masyarakat, mengingat beberapa bulan terakhir, hotspot terpantau hampir di seluruh wilayah Indonesia. Data Satelit NOAA (21/09/2017) pukul 20.00 WIB, mencatat 19 titik muncul di Kalimantan Barat (5 titik), Jawa Timur (4 titik), Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung masing-masing 2 titik, dan di Kalimantan Selatan, Bangka Belitung masing-masing 1 titik.

Sedangkan 21 hotspot terpantau oleh satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level  ≥80%, di Kalimantan Timur 3 titik, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 1 titik, Nusa Tenggara Barat 7 titik, dan Nusa Tenggara Timur 9 titik. Tidak jauh berbeda, sebanyak 20 hotspot terpantau Satelit TERRA AQUA (LAPAN) confidence level ≥80%, dengan penyebaran yang sama seperti pada data Satelit TERRA AQUA (LAPAN).

Sampai 21 September 2017, hotspot menurun secara akumulatif sebanyak 1.110 titik (34,63%), dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 3.205 titik, menjadi 2.095 titik di tahun 2017. Penurunan juga terlihat pada data Satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level ≥80%, yaitu sebanyak 1.948 titik (56,46%), dari tahun sebelumnya sebanyak 3.450 titik.

Sementara itu, kegiatan pemadaman juga terus dilakukan secara terpadu di Provinsi Sumatera Selatan, pada lahan total seluas ± 2 Ha di Kabupaten Ogan Ilir. Setelah kurang lebih dua jam, kebakaran dapat dipadamkan. Di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, sekitar 1,3 Ha lahan terbakar juga berhasil dipadamkan oleh Manggala Agni Daops Sangkima.(*)

 

BERITA REKOMENDASI