Kemah Seni membumikan kesenian masyarakat

BOGOR, KRJOGJA.com – Seniman dan budayawan bersilaturahmi menggelar Kemah Seni dalam rangka membumikan kembali seni dan kesenian di tengah masyarakat sebagai sarana pemersatu bangsa.  Kemah Seni berlangsung di Humaland, Kampung Pondok Ranggon, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, (08/09/2018)

"Ada pemahaman yang keliru tentang seni di masyarakat saat ini, hanya memandang seni sekedar sebagai hiburan atau penghibur, mengisi waktu luang," kata Yvonne De Fretes seorang sastrawan penggagas Kemah Seni, saat ditemui Sabtu.(8/9 2018)

Menurut Yvonne pemahaman yang keliru ini menjadikan seni dan kesenian tidak sama penting dengan politik dan ekonomi, sehingga dalam keseharian berada pada posisi kedua.

Berangkat dari permasalahan itu, seniman dan budayawan dari berbagai elemen, ada perupa, penyair, sastrawan, pemusik, praktisi tenaga pendidik, jurnalis berkumpul dan bersilaturahmai dalam kegiatan Kemah Seni.

Kemah Seni diikuti warga dan anak-anak yang berada di sekitar Humaland, warga Kampung Pondok Ranggon. Kegiatan yang dilakukan seperti lomba mewarnai, membaca puisi, dan juga diskusi serta workshop bagi pekerja kesenian.

Sejumlah seniman dan budayawan menjadi pengisi acara seperti, Bambang Asrini Wijanarko seorang Kurator seni rupa yang juga Ketua Jakarta Art Movement, Luman A Saelendra seorang penyair, dan pemimpin majalan G-Priority, penyair muda Iwan J Kurniawan, sastrawan Mas Darmadi, Sinar Ramses Simatupang, dan seniman lainnya.

Ketua Pelaksana kegiatan, Frans Ekodhanto mengatakan, inisiatif dari perhelatan Kemah Seni ini berangkat dari kegelisahan era kekinian. Kegiatan kesenian yang dinikmati warga sekarang sebagai hiburan, di gedung mewah, dan ber AC menjadi menara gading yang sulit dicapai oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.

Sementara, lanjut Frans, di zaman Wali Songo, seni dan budaya menjadi saranan siar agama Islam, dan di era WS Rendra dan kawan-kawan menjadi sarana perjuangan. "Era kekinian, kita ingin menghadirkan lagi seni di tengah masyarakat, sebagai sarana pemersatu. Di tengah gonjang-ganjing ekonomi dan politik, masyarakat menyatu dalam kesenian," kata Frans. (Ati)

BERITA REKOMENDASI