Kemendes PDTT Tingkatkan Kesejahteraan Warga Sumbawa

JAKARTA, KRJOGJA.com – Direktorat Pengembangan Daerah Pulau Kecil dan Terluar, Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), mengembangkan program budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba apung di Pulau Bungin, Desa Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang terkenal dengan sebutan ‘Pulau Terpadat di Dunia.’ 

"Alhamdulillah, setelah dua tahun berjalan, program ini bisa dikatakan sangat berhasil. Ini karena tidak hanya mengembangkan budidaya ikan kerapunya yang berhasil tetapi juga berhasil mengembangkannya menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Bahkan, Pulau Bungin kini menjadi terkenal sebagai destinasi wisata kuliner ikan kerapu di Sumbawa Besar,” katar Direktur Pengembangan Daerah Pulau Terpencil dan Terluar, Hasrul Edyar di Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Sebelumnya ia telah mengikuti panen raya ikan kerapu dan pemberian bantuan Landasan Apung, di Pulau Bungin, Minggu (211/2018). Untuk diketahui Pulau Bungin memiliki luas lahan lebih kurang delapan hektar dan dihuni lebih 4.000 penduduk. Saking padatnya, nyaris tidak ada tanaman yang terlihat tumbuh di pulau kecil ini karena semua ruang telah dipenuhi perumahan penduduk yang padat. Mayoritas penduduknya adalah para nelayan Suku Bajo. 

"Nah, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi penduduk super padat ini, sejak 2015 dikembangkan program budidaya ikan kerapu," tutur Hasrul Edyar.  Di Kabupaten Sumbawa, ujarnya, ada tiga lokasi percontohan program budidaya ikan kerapu yang dikembangkan Kemendes PDTT yakni di Desa Bungin, Kecamatan Alas, Desa Labuhan Bajo, Kecamatan Alas dan Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Torano. 

Setelah program berjalan dua tahun, dan telah berhasil menikmati beberapa kali panen raya, para nelayan Pulau Bungin kemudian mengembangkan program ini tidak hanya budidaya ikan kerapu, tapi
menjadikan lokasi area budidaya menjadi destinasi wisata. (Ful)

BERITA REKOMENDASI