Kemenhub Luncurkan Knowledge Management System

JAKARTA.KRJOGJA.com -Kemenhub kini memiliki Knowledge Management System (KMS), sebuah sistem aplikasi yang mengkombinasikan dan mengintegrasikan fungsi untuk sebuah perlakukan kontekstual terhadap masing-masing pengetahuan eksplisit dan tasit, selama sebuah organisasi atau bagian organisasi tersebut menjadi target dari tindakan manajemen pengetahuan.

Aplikasi KMS Kememhub diluncurkan oleh Sekretaris Jenderal Kemenhub, Djoko Sasono di Jakarta, Jumat (06/09/2019) sore. "KMS ini merupakan terobosan baru memanfaatkan teknologi informasi untuk menghasikan informasi publik yang transparan dan efektif," ujar Djoko Sasono.

Diharapkan, dengan adanya KMS maka dapat terpetakan persepsi publik secara komprehensif terhadap reputasi Kemenhub untuk menetapkan produk komunikasi yang lebih tepat sasaran.

Dijelaskan Djoko, KMS merupakan sebuah proses dalam mengidentifikasi, memilih, mengatur, menyebarkan informasi penting dan keahlian yang merupakan bagian dari knowlegde organisasi dan biasanya berada dalam organisasi secara tidak terstruktur.

KMS dapat mendorong pembelajaran dalam organisasi yang dapat mengarah ke penciptaan pengetahuan lebih lanjut. "Di Kemenhub, KMS merupakan sistem pengorganisasian pengetahuan dalam bentuk dashboard decission support system (DSS) yang didalamnya memuat early warning system potensi krisis,” tutur Djoko.

DSS dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan pimpinan memutuskan kebijakan (strategi) komunikasi publik yang efektif, tepat sasaran, dan terukur. Strategi tersebut dibutuhkan saat terjadi gap antara kinerja dan kebijakan yang disampaikan kepada publik dengan persepsi yang diterima publik,” kata Djoko.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Hengki Angkasawan menambahkan, kebijakan yang disampaikan kepada publik nantinya tidak lagi bersifat satu arah namun sudah disesuaikan dengan pelibatan persepsi dan keinginan publik sebagai khalayak utama.

“Manfaatnya, agar dapat terpetakan persepsi publik tentang Kemenhub, terdapat early warning system terhadap isu negatif yang tidak faktual yang berkembang di masyarakat sehingga dapat disusun sebuah strategi komunikasi yang tepat sasaran, efektif, dan terukur,” jelas Hengki. (Imd)

BERITA REKOMENDASI