Kemenkes Percayakan Universitas YARSI Turunkan Stunting

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Gizi menjalin kerja sama dengan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) melakukan pendampingan kepada pemerintah kabupaten dalam mengelola program penanggulangan stunting. 

Universitas YARSI merupakan salah satu dari 17 Perguruan Tinggi yang dipercaya pemerintah untuk mengawal program ini sesuai harapan pemangku kepentingan. Universitas YARSI bersama UKI tercatat sebagai dua PTS  yang dilibatkan dalam penanganan masalah stunting. Sedangkan partisipan dari perguruan tinggi lainnya semua berasal PTN ternama. 

Universitas YARSI dipercaya Kemenkes untuk terlibat dalam mengelola program penanggulangan stunting di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Ada 10 desa yang akan menjadi wilayah prioritas penanganan stunting di Kabupaten Banten, yaitu Kadu Maneuh, Koroncong, Pakuluran, Pasirkarag, Tegalongok, Banyu Mundu, Pasirdurung, Langensari, Koncang, dan Kadugadung.

Dr. Hera Nurlita dari Direktorat Gizi Masyarakat, Kemenkes,di Jakarta ,Minggu (30/6 2019)  Universitas YASRI dipercaya untuk melakukan pendampingan di locus stunting karena komitmennya yang tinggi dari pengelola universitas mulai dari Ketua Yayasan, Rektor hingga para Dekan yang dibuktikan hadir secara langsung dalam workshop penyamaan persepsi PT pada program penurunan stunting di Kabupaten Pandeglang .

Pertimbangan lainnya, kata Hera, karena Program Studi (Prodi) di Universitas YARSI cukup kapabel, kompeten dan sarat pengalaman khususnya dalam melaksanakan misi Tri Dharma PT yakni pengabdian masyarakat. Selain juga hasil Litbang dari universitas ini dipercaya oleh mitra universitas internasional sehingga lebih mudah dalam mengaplikasikan di lapangan dalam program pencegahan dan penurunan stunting di Pandeglang tersebut. 

Pada workshop itu langsung dihadiri Dr. Hera Nurlita (Staff Direktorat Gizi Masyarakat Kemenkes),Nina Sardjunani (Team leader sekretariat SDGs kantor Bappenas), Prof. dr. H. Jurnalis Uddin, PAK (Ketua Yayasan Universitas YARSI), Prof. Soekirman (Guru Besar Emeritus IPB dan Guru Besar tidak tetap  FK-UKI Jakarta), Prof. dr. H. Fasli Jalal, Ph.D (Rektor Universitas YARSI), dr. Hj. Rika Yuliwulandari (Dekan FK YARSI), serta Dr.dr. Wan Nedra Komaruddin, SpA (Bagian Ilmu Kesehatan Anak). 
Dr. Hera Nurlita menjelaskan perbaikan gizi masyarakat, khususnya mengatasi masalah stunting, telah menjadi komitmen pemerintah pada pembangunan nasional sekaligus pada pembangunan di tingkat global. 

"Stunting adalah masalah pembangunan yang kompleks, dan terkait dengan kemiskinan, kelaparan dan kurang gizi, kesehatan ibu dan anak, penyakit, pendidikan, kondisi lingkungan dan sanitasi, serta jaminan keamanan pangan dan gizi,"jelas Hera. 

Ditegaskan wakil pemerintah ini bahwa penanggulangan stunting memerlukan kerja sama lintas sektor, lintas disiplin serta lintas pelaku. Untuk itu pemerintah perlu memastikan program lintas sektor dilaksanakan secara konvergen dan efektif. 

Pemerintah, baik pusat, provinsi dan kabupaten/kota harus bertanggung jawab atas pencegahan dan penanggulangan stunting. 
Namun demikian upaya ini, diakui masih menghadapi berbagai tantangan diantaranya perbedaan persepsi antara pihak terkait terhadap masalah stunting dan masalah gizi pada umumnya, masalah koordinasi, dan kualitas SDM. Tantangan dan kesulitan ini yang akan dipecahkan dan dicarikan solusinya dengan pelibatan PT. 

Rektor Universitas YARSI, Prof dr H Fasli Jalal PhD, menyambut positif kepercayaan pemerintah kepada Universitas YARSI yang dipimpinnya secara konkret dapat  melaksanakan misi Tri Dharma PT. 
Prof Fasli mengatakan Perguruan Tinggi (PT) dapat membantu mengatasi masalah pemahaman tersebut serta mendukung perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program penanggulangan stunting oleh pemerintah, khususnya di wilayah kabupaten bahkan hingga ke tingkat desa sekalipun. 

Menurutnya, pemerintah dan PT sepakat menargetkan menurunkan stunting dari 30 persen menjadi 19 persen. Ini, kata Fasli, juga menjadi komitmen Universitas YARSI bersama Kemenkes dengan  berkolaborasi dalam pencegahan dan penurunan angka stunting. 

"Stunting disebabkan saat terganggunya kehamilan, yang dimulai dari air susu dini yang tidak dimanfaatkan secara baik," kata mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional era Presiden SBY ini. 
Stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Di antaranya perbedaan persepsi antara pihak terkait terhadap masalah stunting dan masalah gizi pada umumnya, masalah koordinasi, dan kualitas SDM. 

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, dr Rika Yuliwulandari, MSc, Ph.D selaku Ketua Tim Pendamping Universitas YARSI yang akan berangkat ke Pandeglang, mengatakan  pihaknya akan tetap fokus di 10 desa dalam prioritas penanganan stunting
Tim dari YARSI, kata dr Rika akan melakukan pendampingan kepada pemerintah kabupaten dalam mengelola program penanggulangan dan penurunan stunting.
Dalam pendampingan itu, tim dari YARSI memiliki target baik di tingkat PT itu sendiri, tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa. 

Menurut Rika di tingkat PT, target dicapai adalah terbentuknya komitmen PT untuk melakukan pendampingan penurunan stunting di tingkat kabupaten sesuai dengan pedoman pendampingan yang ditetapkan. Selain juga terbentuknya organisasi penurunan stunting di PT. 

Tak kalah penting dan memegang peranan vital dalam penyuksesan program pencegahan dan penurunan stunting  adalah pelibatan kepala pemerintahan di kabupaten. Maka  jelas Rika, perlu ditetapkannya perjanjian kerjasama antara PT dengan Bupati.

"Kita perlu menjalin kerja sama ini karena leadership Bupati di daerah memegang peranan penting untuk mensinergikan jajarannya dengan tim dari YARSI. Kita secepatnya akan bertemu Bupati Pandegelang di awal Juli sebagai pembuka kunci untuk tindak lanjut program ini dengan SKPD terkait Kabupaten Pandegelang, seperti pendidikan, kesehatan, sosial, anak dan perempuan, pertanian dan perkebunan, pekerjaan umum dan perumahan rakyat serta dari dinas agama terkait maupun pengelolaan dana desa. 

Target lainnya segera digelar workshop di PT tentang penyamaan persepsi program dan kegiatan pendampingan penurunan stunting serta kepastian terselenggaranya pendampingan penurunan stunting oleh PT di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan desa. 
Kesemua pekerjaan di lapangan harus didokumentasikan dalam laporan hasil pendampingan PT dalam penurunan stunting dan telah tersusun naskah publikasi penurunan stunting dalam bentuk monograf. 

Target lainnya di tingkat kabupaten, menurut dr Rika adalah terbentuknya Satgas penurunan stunting yang ditetapkan oleh Bupati dengan memperhatikan peran aktif ketua tim penggerak PKK kabupaten. Juga tersedianya tim teknis di tingkat kabupaten antara lain terdiri dari PT, organisasi profesi, dan lainnya serta tersedianya data sumberdaya penurunan stunting di tingkat kabupaten. 

Dekan FK Universitas YARSI bersama timnya juga menargetkan tersedianya data tentang alokasi sumber dana ke 10 desa sasaran dan pemantauan kegiatan Pokja penurunan stunting di tingkat kecamatan. Selain tersedianya sumber dana penurunan stunting yang berasal dari APBD Perubahan

Untuk target di tingkat kecamatan dapat terbentuknya Pokja penurunan stunting lintas sektor dipimpin oleh Camat dengan wakil-wakil adalah Kepala Puskesmas dan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan, yang ditetapkan dengan Peraturan Camat. 
Selain tersedianya alat atau instrumen dan mekanisme monitoring penurunan stunting di desa sasaran. 

"Pokja bertanggung jawab menyusun laporan kegiatan penurunan stunting kepada Satgas penurunan stunting di tingkat kabupaten. Kemudian  Pokja melaksanakan diseminasi dari sistem perencanaan dan pengelolaan program stunting ke desa-desa di luar desa prioritas,"urai Rika. 

Di tingkat desa pun menargetkan terpilihnya 10 desa lokus stunting, terbentuknya atau berfungsinya minimal 2 Posyandu (rata-rata 3-5 Posyandu) di setiap desa. Selanjutnya terlatihnya atau dilatih ulangnya 5 kader di setiap Posyandu untuk 4 posyandu terpilih di desa. 

Rika memerinci capaian yang akan diselesaikan timnya hingga tersedianya daftar keluarga sasaran by name by address yang masuk dalam 1000 HPK (ibu hamil, ibu menyusui, bayi 0-5 bulan, 6-11 bulan dan anak 12-23 bulan) di setiap Posyandu mengikuti sistem yang dimiliki oleh Kemenkes (menggunakan data ePPGBM atau pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat untuk data balita dan ibu hamil).

"Nantinya kita ingin pastikan tersedianya sarana paket pertolongan gizi (kapsul vit. A, TTD, PMT, dll) di setiap Posyandu, termasuk sarana KIE (buku KIA, KMS, leaflet) yang terkait dengan stunting) di setiap Posyandu (30 set KIE per kabupaten). Bahkan memastikan tersedianya profil keluarga sasaran untuk dasar alokasi program intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif secara konvergen. Termasuk ketetapan tentang besaran intervensi gizi sensitif dan spesifik dari berbagai sumber pembiayaan bersumber OPD atau dana desa maupun lainnya, "jelas  Dosen Sains dan Teknologi Berprestasi Pemilihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Nasional 2018 ini 
Intinya tim Universitas YARSI yang dia supervisi mempunyai target-target yang harus dicapai dan dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan. Misalnya tersedianya pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, pendirian Posyandu dan kader kesehatan di tiap desa, memastikan tersedianya air bersih dan jamban atau wc di tiap rumah dan lain sebagainya. 

Rektor Prof Fasli Jalal menegaskan untuk memperkuat tim Universitas YARSI dalam persiapan, pelaksanaan, monitoring dan raihan target dalam program ini akan melibatkan berbagai fakultas seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ekonomi, Fakultas Psikologi hingga Pasca Sarjana. Kami mengharapkan peran serta Pemkab Pandeglang, dinas terkait dan masyarakat secara luas  untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi stunting sehingga daerah ini akan mengalami penurunan secara signifikan bahkan insya Allah terbebas dari stunting  sehingga kita bisa menyiapkan masa depan anak-anak lebih baik,”ungkap mantan Kepala BKKBN ini.(ati)

 

BERITA REKOMENDASI