Kemenristekdikti Bidik 4 Kawasan Sains Masuk Level Utama

DENPASAR, KRJOGJA.com – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan lima tahun ke depan ada empat Kawasan Sains dan Teknologi (Science Techno Park/STP) di Tanah Air masuk level utama dan satu ke tingkat internasional.

"Kawasan sains dan teknologi (KST) yang sekarang yang sudah ada, paling top di level madya. Kalau akan memilih untuk dijadikan yang utama, tentu yang paling siap, yang ada di perguruan tinggi maupun di lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK)," kata Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Patdono Suwignjo, saat menyampaikan sambutan membuka Seminar Internasional KST/STP dan Business Gathering, di Denpasa.

Dalam menjawab tuntutan perkembangan inovasi, pemerintah telah mengeluarkan Program Nawacita Presiden RI yang salah satu programnya adalah membangun Science Techno Park (STP) atau Kawasan Sains dan Teknologi di berbagai daerah.

Kebijakan pemerintah untuk membangun dan mengembangkan Science Techno Park (STP)/KST di berbagai daerah, menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah.

KST didesain untuk menjembatani antara kebutuhan industri dan hasil riset yang berdasarkan pada potensi sumber daya alam dan manusia di setiap daerah.

Sebelumnya pemerintah menargetkan akan membangun 100 KST/STP dalam periode lima tahun (2015-2019). Namun, lanjut Patdono, setelah dilakukan evaluasi, Kemenristekdikti dan Bappenas menyadari bahwa target tersebut tidak realistis.

Patdono mengemukakan, berkaca dari pengalaman di sejumlah negara, untuk menjadi kawasan sains dan teknologi yang "mature" atau matang itu diperlukan waktu yang sangat lama. Di Korea Selatan sampai 35 tahun dan Swedia 28 tahun.

"Jika di Indonesia membuat 100 STP dalam lima tahun, jelas tidak realistis. Maka untuk lima tahun ke depan, kita perlu membuat target yang lebih realistis, yakni kami ingin empat yang utama, dan satu yang sudah internasional," ucapnya.

Pihaknya tidak memungkiri untuk membuat KST/STP itu tidak mudah. Biaya yang dikeluarkan sangat besar karena membutuhkan infrastruktur yang banyak, sehingga kalau anggaran pemerintah terbatas, harus fokus berapa STP yang ditargetkan dan betul-betul STP yang sudah jadi. Kemudian juga ada kelemahan karena di Indonesia ini belum ada STP yang memiliki "anchor industry" atau kolaborasi industri jangkar yang besar. (Ati)

BERITA REKOMENDASI