Ketertinggalan Indonesia di Bawah Negara Lain

JAKARTA, KRJOGJA.com – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menyampaikan sejumlah indikator ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara lain. Dari banyak indikator, Arif, menyebut Indonesia berada di bawah negara-negara Asia Tenggara.

Demikian disampaikan Rektor IPB Arif Satria saat menyampaikan pidato refleksi akhir tahun bertajuk "Kebebasan Akademik dan Transformasi Demokrasi" di Kantor DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

"Indeks inovasi global Indonesia berada di urutan 85, bandingan dengan Singapura yang berada diurutan 8, Malaysia ke 35, Thailand ke 43, Vietnam ke 42, Filipina ke 54, dan Brunai urutan ke 71," ujar Arif.

Hadir pada kesempatan ini adalah Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi, Presiden Asian African Youth Government Benni Pramula, mantan Kepala BNP2TKI Moh. Jumhur Hidayat, anggota DPR RI Sri Meliyana dan ratusan aktivis lintas generasi.

Selain menyampaikan ketertinggalan dalam hal inovasi, Arif juga menyebutkan Indonesia mengalami ketertinggalan dalam hal daya saing. Disebutkan, indeks daya saing global Indonesia berada di urutan ke 50 dunia dan urutan ke empat di Asia Tenggara di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

"Indeks ketahanan pangan global 2019 ini kita nomor 62 dunia dan kelima di Asis Tenggara," papar Arif.

Tidak sampaikan di situ, dalam Food Sustanability Indexs (FSI) 2018, Arif juga mengatakan bahwa Indonesia mendapat skor 59,1, tertinggal dari Ethiopia yang mendapat skor 86,5. Padahal Ethiopia pernah dikenal sebagai negara kelaparan. Namun demikian, lanjut Arif, dalam hal food lose and waste atau FLW kehilangan dan pemborosan pangan Indonesia tergolong tinggi.

"Menurur FAO, FLW kita sekitar 300 kg/kapita/tahun dan tergolong nomor dua dunia, setelah Arab Saudi. FLW ini menjadi perhatian dunia karena sepertiga produksi pangan dunia hilang dan mengalami pemborosan. Sebenarnya dengan mengatasi FLW ini saja, maka ketersediaan pangan kita akan meningkat," tambah Arif.

Arif juga memaparkan indeks kelaparan globl. Versi IFPRI, Arif menyebut bahwa skor indeks Indonesia sebesar 21 dan skor negara maju kurang dari 5.

"Pada tahun 1992 skore kita 35,8 dan selama 22 tahun hingga 2016 turun 12,9 persen, atau rata-rata turun 0,6 poin pertahun," katanya.

Bila tidak ada usaha khusus yang sistematis dan serius, menurut Arif, dengan penurunan 0,6 poin pertahun itu maka diperlukan 27 tahun untuk menyamakan posisi Indonesia dengan negara maju.

"Tentu kita mengapresiasi langkah pemerintah untuk mengatasi masalah stunting, karena stunting ini menjadi variabel penting dalam indeks kelaparan global. Bila masalah ini ditangani dengan kerja ekstra keras, maka waktu yang diperlukan untuk setara negara maju maka akan mebih cepat lagi," katanya.

Menurut Arif, harus ada optimisme membangun bangsa karena optimisme akan memberi energi positif dalam berpikir dan bertindak. Dia mengatakan optimisme mulai mengalir dan momentumnya adalah 2045 persis 100 tahun Indonesia merdeka.

"Diperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan PDB 7,3 triliun dalar AS dan pendapatan perkapita 25 ribu dolar AS," demikian Arif.(ati)

BERITA REKOMENDASI