Kondisi Normal Baru, Operator Transportasi Harus Keluarkan Dana Lebih untuk Penuni Prorokol Kesehatan

“Kita jangan buru-buru mempertentangkan ekonomi dalam kondisi new normal. Konsep yang kita buat yaitu selaras antara ekonomi dan mengedepankan protokol kesehatan. Selama masa pembatasan transportasi menyebabkan penurunan pergerakan masyarakat. Salah satunya sektor penerbangan yang jumlahnya menurun drastis sebanyak 90% di bandara Soekarno Hatta,” jelasnya.

Menhub mengilustrasikan jika tadinya pergerakan di bandara Soekrano Hatta bisa 100.000 pergerakan per-hari, saat ini menurun drastis. Dengan timbulnya berbagai permasalahan dalam bidang transportasi dan logistik, Budi mengajak para pakar dan akademisi dari seluruh wilayah di Indonesia untuk berpartisipasi mencari solusi yang aplikatif untuk daerahnya masing-masing.

Dengan demikian lanjutnya, pemerintah mengatur kembali pengoperasian transportasi melalui visibilitas yang terukur, serta melalui kalkulasi operasional. Pertimbangan tersebut perlu dipikirkan secara lebih komprehensif dengan memasukkan prinsip kesehatan dalam bertransportasi. Sehingga dapat memilih langkah paling strategis dari beberapa pilihan yang tersedia untuk menciptakan regulasi baru menganggapi new normal transportasi di Indonesia.

Menurut pakar transportasi dari UGM, Agus, mendukung langkah Kemenhub untuk beradaptasi dalam new normal. Penyelenggaraan bisnis transportasi saat ini tidak mudah. Operator perlu mengeluarkan biaya lebih untuk menyelenggarakan pelayanan protokol kesehatan yang tidak dapat dikompromikan. Seperti diantarnya menyediakan pelayanan rapid test, pembatasan penumpang 50% dari total okupansi, fasilitas cuci tangan, dll. Sehingga perlu memperhitungkan kembali penentuan biaya operasional.

Melalui pandangannya, Agus menyampaikan opsi kebijakan yang mengutamakan nilai kemanusiaan untuk ekonomi yang lebih baik. Gagasan ini merupakan penggabungan dari opsi kebijakan pemulihan ekonomi dan tetap mempertahankan misi kemanusiaan.

“Ekonomi lebih baik bukan yang komersial semata, bukan keuntungan, bukan satu benefit sebesar-besarnya, melainkan ekonomi yang dibangun atas nilai kemanusiaan,” tutur Agus.

Melalui opsi tersebut, Agus mengusulkan new normal dalam tranportasi melalui konsep Transportasi Humanitarian. Konsep tersebut mengandung nilai sehat, bersih, humanis, nyaman, selamat, cerdas, dll. Dengan mengutamakan nilai kemanusiaan tersebut, maka diharapkan menjadi pola ekonomi Humanistic Company. Yaitu sebuah konsep ekonomi yang lebih baik dengan mengandung nilai conscious capitalism, kindness business, benefit corporation, dan firms of endearment. Sehingga regulator dapat melindungi individu saat melakukan mobilitasnya serta tetap mendorong produktivitas manusia. (Ati)

BERITA REKOMENDASI