Kopi Indonesia Berkibar di Mesir

Editor: Agus Sigit

Duta Besar RI untuk Mesir, Dr. (HC) Lutfi Abdul Rauf. mengatakan kedekatan dan persahabatan 2 (dua) negara antara Indonesia dan Mesir yang meski letaknya berjauhan ternyata membawa manfaat besar bagi keduanya.

”Indonesia bahkan bisa mendapatkan manfaat dari kerjasama yang telah ada dengan Mesir”, katanya pada acara Webinar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) pada hari Sabtu, 4 September 2021.

Lebih lanjut juga dikatakan bahwa total ekspor produk kopi Indonesia ke Mesir pada tahun 2020 ke Mesir sebesar USD 55,042 juta atau senilai Rp. 785 miliar. Pada periode Januari hingga Mei 2021 ekspor tersebut meningkat sebesar 38,68% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Hal itu menunjukkan permintaan produk kopi Indonesia di Mesir masih tinggi. Padahal menurut keterangan WHO, Mesir saat ini telah mengalami 4 kali gelombang serangan COVID-19. Menurut keterangan resmi WHO per 21 Agustus 2021 total kasus positif di negara Timur Tengah tersebut dan yang meninggal 16.663.

”Mesir adalah mitra negara yang strategis dan dinamis”, lanjut Lutfi Rauf. Negeri Piramida ini memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa (EU-Egypt Partnership Agreement, European Free Trade Association-EFTA, negara-negara Arab (Greater Arab Free Trade-GAFTA), African Continental Free Trade Area ACFTA.

“Sebagai pihak AFCTA Mesir menuju Pasar Kontinental Tunggal, integrasi ekonomi kawasan Afrika dengan target pasar lebih dari 1,3 milliar konsumen”, kata Lutfi Rauf.

Sementara itu Atase Perdagangan Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi menambahkan, harga pasaran kopi robusta lndonesia ke pasar Mesir pada April 2020 per ton untuk jenis kopi robusta grade I seharga antara 2.215 dolar AS sampai 2.300 dolar AS. Lalu grade ll berkisar 2.065 dolar AS hingga 2.100 dolar AS. Berikutnya grade lll defect 45 antara 1.730 dolar AS sampai 1.800 dolar AS.

Sampai sekarang, lanjut Irman, ekspor kopi robusta masih berjalan walaupun restoran, hotel, dan kedai kopi di Mesir harus tutup karena Covid-19. Penutupan tempat umum ini membuat para pedagang dan distributor kopi harus beralih menjual produk kopi secara daring atau melalui sistem pesan antar ke rumah.

Disadari bahwa Mesir masih menerapkan beberapa hambatan non-tarif dan itu masih ditambah dengan prosedur pabean yang dirasakan memberatkan, seperti bea cukai tinggi, pajak pertambahan nilai dan kontainer. Namun khusus untuk biji kopi (green beans) tidak dikenakan pajak. “Kita tetap optimis para eksportir kopi Indonesia masih tetap dapat mengekspor produknya ke Mesir” tutur Irman. Kemudahan tersebut, sambungnya, misal mengeluarkan barang di pelabuhan.

Ketua Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) I Ketut Putrayasa menyambut baik cerita sukses kopi Indonesia di Mesir. Potensi pasar di Mesir masih sangat besar sekali termasuk kopi. Pangsa Indonesia terlihat masih bisa ditingkatkan. Oleh karena itu Ketut Putrayasa mengharapkan ASKI dapat ikut serta dalam berbagai promosi kopi di Timur Tengah.

BERITA REKOMENDASI