KPK Apresiasi Gerakan Perempuan Antikorupsi

JAKARTA, KRJOGJA.com – Komisi Pemberantasan Korupsi memuji program Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) di Kementerian Agama yang bisa menjadi contoh bagi instansi lain dalam pencegahan praktik rasuah.

"Standar keberhasilan di Kemenag baik. Agennya baik di sini. Bisa jalan," kata Kepala Bagian Humas KPK Yuyuk Andriati di acara bincang-bincang bertema 'Perempuan dan Gerakan Pencegahan Korupsi' di Jakarta, Senin, (10/12/2018).

DWP Kementerian Agama berada di Kemenag yang memiliki satuan kerja terbesar di antara kementerian lain. Dari pusat sampai daerah banyak agen perempuan antikorupsi yang bisa turut melakukan pencegahan rasuah.

"Saya merasa punya saudara di 34 Provinsi. Ketika melakukan perjalanan dinas saya ketemu agen SPAK Kemenag yang ada di provinsi, kabupaten dan kota," katanya.

Kendati begitu,  tidak menampik jika persoalan kuantitas agen SPAK belum tentu sebanding dengan kualitas. Maka dari itu, penguatan kapasitas harus terus dilakukan.

Secara umum, menurut dia, program SPAK di Kemenag berjalan dengan baik yang digawangi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama. Beberapa instansi pemerintah mulai mencontoh DWP Kemenag dalam program SPAK seperti Kementerian Perhubungan.

Perempuan, dapat menjadi strategis dalam pencegahan korupsi di lingkungan keluarga. Ibu dalam keluarga memegang peranan kunci dalam mengembangkan perilaku jujur dalam keluarga. 

"Kalau perempuan itu akan menularkan kebaikannya kepada anak dan suaminya. Dan kita berharap menular ke tetangganya dan lebih luas lagi seterusnya," kata dia.

Penasehat DWP Kementerian Agama Trisna Willy Lukman Hakim mengatakan SPAK di Kemenag awalnya bukan kegiatan resmi tapi sebagai gerakan moral. Peran perempuan dalam keluarga turut mempengaruhi sikap suami dan anaknya untuk antikorupsi.

"Perempuan adalah tiang negara. Katanya perempuan baik, negara baik. Perempuan adalah ibu di keluarga dan menjadi madrasah pertama buat anak-anaknya. Sebagai seorang istri, berpengaruh terhadap suami sebagai pendorong untuk keberhasilan juga sebagai yang menjatuhkan suami. Istri yang mendorong agar suami berhasil," kata dia.

Perempuan Indonesia jumlahnya lebih banyak dari laki-laki. "Berdasarkan pengalaman kalau perempuan yang bergerak itu lebih cepat dan dahsyat dibanding laki-laki. Ibu guru lebih cepat gerakannya dari pak guru," tegasnya. (Ati)

 

KPK

BERITA REKOMENDASI