KRI Soeharso Siap Jadi Rumah Sakit Terapung WNI Kapal Pesiar

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kementerian Kesehatan menyebut ada dua opsi untuk mengevakuasi 74 warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai kru di kapal pesiar Diamond Princess, Jepang, terkait Virus Corona.

Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto merinci opsi pemulangan itu terdiri dari jalur laut dan jalur udara.

Pertama, opsi jalur laut menggunakan kapal Rumah Sakit (RS) KRI dr. Soeharso. Achmad menjelaskan kepulangan WNI dengan KRS Soeharso membutuhkan waktu setidaknya 14 hari untuk penjemputan dan 14 hari untuk kembali ke Indonesia.

Dengan demikian, opsi penjemputan ini sudah mencakup masa observasi. Artinya, para WNI itu tak perlu diobservasi di dalam negeri.

“Dengan KRS Soeharso penjemputan ke perairan Jepang butuh waktu 14 hari, sementara itu mereka juga diobservasi di Jepang, kemudian pindah observasinya ke KRS Soeharso, sehingga ketika tiba di Indonesia tidak perlu lagi observasi karena sudah 28 hari, sudah clear” jelasnya.

Opsi ini, kata dia, muncul karena KRS ini memiliki ruang perawatan intensif (ICU) dan 150 tempat tidur pasien. “Kita pakai KRS Soeharso, ada delapan ruang ICU, ada 5 ruang operasi, dan lebih dari 150 tempat tidur. Jadi sama saja seperti rumah sakit, fasilitasnya memadai untuk dilakukan observasi,” katanya.

Opsi kedua, pemulangan menggunakan pesawat miliki TNI-AU. Jika opsi ini diambil, Achmad menyebut perlu ada masa observasi di Indonesia selama 28 hari. Pihaknya mengklaim sudah menyiapkan tempat observasi yang masih dirahasiakan. (*)

BERITA TERKAIT