LIPI Kembangkan Obat Malaria Teknologi Nano

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA (KRjogja.com) – Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan bahan baku obat malaria berbasis Artemisin Based Combination Therapy (ACT) dengan teknologi nano. Obat tersebut terbukti lebih efektif diserap oleh tubuh penderita malaria.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Yenni Meliana menuturkan, pengembangan obat tersebut dilakukan karena pengobatan malaria yang ada saat ini belum berjalan maksimal. Hal tersebut karena sejumlah lokasi sudah bukan daerah endemis malaria sehingga pasien tidak segera terdiagnosis sebagai pasien malaria.

“Kurangnya cakupan pengobatan malaria menggunakan ACT salah satunya dikarenakan beberapa lokasi yang sudah bukan daerah endemis malaria, seperti Jakarta dan sekitarnya,” tutur Yenni dalam Diskusi di Gedung Sasana Widya Sarwono, LIPI.

Dia menuturkan, kasus malaria yang datang dari daerah non endemis kerap kali terlengahkan, sehingga pasien tidak segera terdiagnosis sebagai pasien malaria. Obat malaria berteknologi nano, dia menjelaskan, akan lebih efektif karena obat malaria bekerja lebih baik jika larut dalam air. Berbeda dengan obat malaria yang dikonsumsi dengan cara dimakan. “Caranya, dengan memperkecil ukuran kristal artemisinin ke dalam cakupan ukuran nanocrystal sehingga mudah larut dalam air,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, peningkatan kelarutan artemisinin dapat dilakukan dengan mendispersikan bahan obat itu dengan bahan pendispersi. Tujuannya, untuk meningkatkan kelarutannya di dalam air atau disebut nanodidpersi.

Hasil penelitian yang dilakukannya itu juga telah mendapatkan penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal-UNESCO For Women In Science National Fellowship Awards for Woman 2016. (*)

BERITA REKOMENDASI