Literasi dan Inklusi Syariah di Indonesia Masih Rendah

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah yakni sekitar 8,9 persen, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat literasi keuangan konvensional yang mencapai 37,7 persen. Begitu juga dengan tingkat inklusi keuangan syariah, hanya sekitar 9,1 persen, sementara tingkat inklusi keuangan konvensional sudah mencapai 75,3 persen.

“Dengan melihat litetasi dan insklusi keuangan syariah ini, bagaimana upaya kita untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah, termasuk yang kita lakukan hari ini,” kata Wakil Direktur Utama 2 PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Abdullah Firman Wibowo, dalam acara media workshop secara virtual di Jakarta, Jumat (20/08/2021).

Sementara market share perbankan syariah juga masih rendah hanya 6,4 persen, Sedangkan market share Malaysia mencapai 29 persen. Sementara penduduk muslim mencapai 87,2 persen dari total populasi atau mencapai 209,1 juta, sedangkan Malaysia hanya sebesar 61,3 persen atau hanya 19,9 juta.

“Meskipun kita ini penduduk muslim terbesar, bahkan di dunia, di Indonesia itu 87,2 persen kira-kira, tapi secara market share hanya 6,4 persen. Ini kalau kita lihat meningkat hanya kurang lebih 1 persen selama 5 tahun terakhir,” ujarnya.

Market share perbankan syariah di Maret 2021 sebesar Rp 605 triliun. Jumlah ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan perbankan konvensional dengan Rp 9.448 triliun.

“Ada beberapa kendala salah satunya tingkat pemahaman, keberadaan kita juga belum bisa mengcover all di area secara nasional. Maka kita lihat bank syariah itu hanya Rp 605 triliun dibanding Rp 9.400 triliun untuk perbankan nasional ” jelasnya.

Menurutnya perbankan syariah masih akan kalah dengan perbankan konvensional meski tumbuh 100 persen. Diharapkan Bank Syariah Indonesia bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Salah satu cara pemerintah untuk mendorong laju pertumbuhan penetrasi bank syariah di Indonesia adalah menggabungkan perbankan yang dimiliki.

Dengan bergabungnya Mandiri Syariah, BRI Syariah dan BNI Syariah berharap keterjangkauan perbankan syariah terhadap seluruh masyarakat di setiap pelosok bisa terwujud. “Oleh diharapkan karena itu, kehadiran Bank Syariah Indonesia dapat mendongkrak percepatan dari sisi pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia,” tuturnya.

Dikatakan, tidak akan menggunakan cara-cara konvensional untuk memasuki penetrasi ini. Namun akan mendorong literasi ekonomi dan keuangan syariah kepada masyarakat.

Setidaknya terdapat dua penerapan model bisnis perbankan sesuai dengan prinsip syariah yang harapannya bisa membangun daya saing sebagai mesin pertumbuhan Indonesia saat ini dan di masa mendatang. Adapun potensi bisnis perbankan syariah masih terbuka lebar dan bisa menjadi andalan untuk menyokong perekonomian.

“Penerapan model bisnis perbankan sesuai dengan prinsip syariah ada dua. Pertama commercial finance atau keuntungan. Kedua yang disebut dengan social finance,” katanya.

Dalam konteks model bisnis perbankan sesuai prinsip syariah, tambahnya, biasanya seseorang yang datang pertama kali akan ditanya apakah dana yang dititipkan hanya dititipkan semata tanpa ada bagi hasil atau dititipkan tapi ada bagi hasil. Pada aspek ini, perbankan syariah dibolehkan menggunakan dana tersebut untuk aktivitas bisnis.

Adapun penempatan dana dengan kesepakatan bagi hasil tersebut dalam perbankan syariah dikenal dengan istilah Mudharabah Muthlaqah. Mudharabah Muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara pemilik dana dengan pengelola dana. Pengelolaan dana memiliki sifat dana bebas yang tidak memiliki batas dalam menentukan usaha dan pelaksanaan.

“Tapi kalau misalnya terbatas, jadi bank itu dititipkan uang kita, deposan, tapi bank itu hanya boleh menggunakan uang untuk sektor pendidikan atau pertanian. Nah begitu bank menggunakan dari sisi aset maka bank itu harus mendeklarasikan yang disebutdengan revenue atau yield atau penghasilan dari bank itu,” tuturnya.

Deklarasi perlu dilakukan, tambahnya, karena penghasilan tersebut yang nanti dibagikan dengan metode menggunakan nisbah yakni bisa 60:40, 55:45, dan lain sebagainya tergantung dari negosiasi. Pada titik ini, sebuah bank yang memberikan keuntungan, misalkan 40 persen, bisa memperoleh bagi hasil lebih tinggi dari bank lain tergantung dari penghasilan yang didapatkan.

Sebaliknya, masih kata Firman, bank lain yang memberikan bagi hasil 45 persen, misalnya, tapi bagi hasil di deposito atau dalam penitipan dananya rendah karena yield yang diperoleh bank tersebut tidak tinggi atau tidak optimal. “Jadi setidaknya ada dua faktor yang menjadi penyebab besar kecilnya bagi hasil dimaksud.

“Jadi ada dua faktor. Satu yield efektif. Kedua yang disebut nisbah. Cara berbisnis perbankan syariah itu cuman ada tiga. Satu dengan jual beli, Murabahah. Jadi jual beli ada margin. Kedua, bekerja sama, atau Syirkah. Nah yang ketiga yang disebut Ijarah atau Fee Based Income (FBI). Kombinasinya banyak. Itu yang disebut berbisnis secara syariah,” jelasnya. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI