MA Keluhkan Minimnya Jumlah Hakim Agung

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Mahkamah Agung (MA) mengeluhkan minimnya jumlah hakim agung dibandingkan dengan banyaknya perkara yang ditangani. Namun, tetap ada pengecekan jika penanganan perkara terlalu lamban. Hal lain yang membuat lamban ialah proses minutasi atau pemberkasan di kepaniteraan.

Kepala Biro Hukum dan Humas MA Abdullah mengatakan, hingga Agustus 2017 tercatat ada sekitar 13.203 perkara yang ditangani oleh MA. Sementara, jumlah hakim agung yang ada saat ini adalah 44 orang.

Jumlah itu disebar ke tiap perbidangan. Rinciannya, 15 Hakim Agung untuk Kamar Pidana dan Kamar Perdata, lima hakim agung untuk Kamar Agama, tiga Hakim Agung untuk Kamar Militer, dan enam Hakim Agung untuk Kamar Tata Usaha Negara. Idealnya, kata Abdullah, jumlah Hakim Agung MA adalah sebanyak 60 orang.

"Dengan jumlah hakim 44 orang dan beban 13.203 perkara, berarti rasio perbandingannya 1:300," ujar Abdullah.

Ia lantas membandingkan MA dengan Mahkamah Konstitusi (MK). Lembaganya itu beberapa kali dibandingkan dengan MK dalam hal kecepatan penanganan perkara. Bagi Abdullah, perbandingan itu tak sepadan karena jumlah perkara yang ditangani MK tiap tahun jauh lebih sedikit dari MA, yakni sekitar 200 perkara.

Abdullah merinci, Hakim Agung MA rata-rata memutus sekitar 1.261 perkara. Batas waktu maksimal penangan tiap perkara ialah 250 hari atau sekitar delapan bulan. (*)

BERITA REKOMENDASI