Masjid Baitul A’la Direnovasi dengan Sumbangan Pembaca KR

Editor: Ivan Aditya

SIGI, KRJOGJA.com – Jemaah Masjid Baitul A'la di Dusun Sidondo 4 Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah kini memiliki masjid yang relatif representatif. Masjid yang sempat rusak akibat goncangan gempa pada 28 September 2018 lalu, kini sudah direnovasi menggunakan dana sumbangan pembaca SKH Kedaulatan Rakyat. 

"Ketika pak kades dan sejumlah perangkat desa masuk masjid ini merasa kaget. Mereka kagum, kok seperti hotel, " kata Susilo, pengurus takdir kepada KRJOGJA.com yang datang bersama para relawan Senkom Mitra Polri untuk melihat kondisi masjid yang sudah direnovasi, Rabu (11/12/2019).

Menurut Susilo yang sehari-hari menjadi perangkat desa Sigi Biromaru, dibanding masjid di sekitarnya, Masjid Bantul A'la kini merupakan yang paling bagus. "Karena itu kami mengucapkan banyak terimakasih kepada para pembaca KR, karena masjid ini sudah direnovasi dengan dana bantuan dari mereka, " katanya. 

Kondisi masjid ini usai gempa memang memprihatinkan. Antara lain plafonnya rontok.  Selain itu, lantainya terbelah, mulai tempat pengimaman sampai pintu utama tengah. Lebar rekahan sekitar 3 cm sehingga ketika di atasnya digelar karpet, sebagian masuk ke rongga rekahan. "Kaki anak kecilpun bisa masuk rekahan tersebut, " tambah Susilo. Selain itu, sebelah kanan depan ada rekahan lagi, tetapi menyamping sekitar tiga meter. Sedang di beberapa sisi dindingnya mengalami retak-retak. 

Karena itu, begita mendapatkan dana bantuan dari Dompet KR sebesar Rp 59 jura, kata Maryono (ketua takmir), seluruh lantai langsung dibongkar, kemudian diganti granit sehingga nyaman jika diinjak. Begitu juga bagian-bagian atas yang rusak segera diganti, sehingga enak dipandang. 

"Alhamdulillah, renovasi selesai sehari menjelang Ramadan lalu. Karena itu malamnya langsung digunakan untuk Salat Tarawih, " kata Maryono yang asli Muntilan ini. 

Meski begitu para jemaah juga berpartisipasi dalam renovasi ini. Menurut Maryono dan Susilo, dana swadaya masyarakat yang mayoritas petani mencapai sekitar Rp 6 juta. 

Saat masa tanggap darurat, kepada masyarakat Sidondo IV Tim Dompet KR juga menyerahkan bantuan sembako yang terdiri 115 kg beras, 25 kg gula pasir dan 31 liter minyak goreng. Beberapa waktu kemudian menyerahkan 5 unit alkon (mesin penyedot air). Alat ini sangat berguna untuk mengairi tanaman di sawah karena saluran irigasi tidak ada airnya akibat bagian hulunya rusak akibat gempa. 

"Sampai saat ini saluran irigasi belum diperbaiki. Untung kami mendapat bantuan alkon dari pembaca KR, sehingga kami bisa panen, " jelas Maryono. 

Akibat gempa dan likuifaksi 28 September 2018 lalu, aliran air irigasi memang tidak sampai lahan pertanian mereka. Sebab, tanggul di hulu jebol, termasuk yang berada dekat sumber air di perbukitan sekitar 50 kilo meter dari Sidondo.Karena itu banyak lahan pertanian mengering. Tanaman palawija yang mestinya menghijau jadi layu. Banyak juga lahan yang berubah menjadi seperti lapangan tak terurus. Terlihat juga pohon-pohon kelapa yang daunnya menguning atau kering. 

Untuk mendapatkan air, para petani membuat sumur di lahan masing-masing dengan kedalaman sekitar 10 meter. Hanya saja untuk menaikkannya sehingga bisa menyemprot ke seluruh lahan,  dibutuhkan alat yang mereka sebut alkon. (Fie)

BERITA REKOMENDASI