Masjid Shirathal Mustaqiem Disusun dari Kayu Ulin

Editor: Ivan Aditya

SAMARINDA (KRjogja.com) – Menilik bentuk, Masjid Shirathal Mustaqiem di Kampung Bugis Kelurahan Mesjid Kecamatan Samarinda Seberang Kota Samarinda layaknya masjid kuno yang ada di Jawa kebanyakan. Konstruksi tulangan di bagian dalam masjid menggunakan struktur kayu yang kuat.

Namun kekhasan masjid yang dibangun pada 1881 ini, seluruh konstruksinya mulai dinding dan lantai menggunakan papan kayu. Bahkan hampir seluruh bangunan masjid tersebut masih asli seperti sejak dibangun pertama kali di bawah pimpinan Sayyid Abdurrahman Assegaf.

"Bangunannya mungkin banyak kesamaan dengan masjid di Jawa. Tapi kalau masjid ini semua menggunakan kayu ulin atau kayu besi yang banyak juga dibilang kayu hitam. Kayunya sangat kuat hingga ratusan tahun," tutur perawat masjid Mujiono kepada Krjogja.com saat mengikuti Tim Travel Heritage Dinas Kebudayaan DIY di Kalimantan Timur, 22-25 November 2016.

Dijelaskan Mujiono, secara tidak langsung masjid yang didominasi warna kuning dengan kombinasi hijau ini memiliki ikatan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pasalnya saat itu Kutai Kartanegara masih di bawah pimpinan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. bahkan sang sultan pada 1311 H sempat menjadi imam dan khatib sekaligus meresmikan masjid yang dulunya bernama Masjid Jami' ini.

Bangunan utama Masjid Shirathal Mustaqiem ini berukuran 20×20 meter. Terdapat satu menara megah di salah satu sudutnya. Termasuk ada pula satu bedug yang letaknya bersebelahan dengan menara. Sementara untuk atap menggunakan model limasan bersusun tiga dengan model genting sirap.

Pada 2003, masjid ini juga meraih Juara II dalam Festival Masjid Bersejarah se-Indonesia. Di bagian dalam masjid terdapat mimbar untuk khotbah yang cukup unik dan berusia ratusan tahun. Selain itu juga ada 4 sokoguru utama serta didukung 12 tiang penyangga lain yang membuat bangunan makin kokoh.

Menurut Mujiono, ada cerita menarik tentang 4 sokoguru yang terbuat dari kayu ulin ini. Ketika itu hingga masuk waktu Maghrib masyarakat kesulitan mendirikan tiang utama. Tapi tiba-tiba ada sosok misterius mengenakan jubah putih yang mengaku ingin membantu mendirikan sokoguru tersebut. Syaratnya sejak Isya hingga Subuh tidak ada yang melihat.

Alhasil ketika usai Salat Subuh masyarakat terkejut ketika keempat sokoguru sudah berdiri. Sedang sosok misterius tersebut sudah tidak ada lagi setelah dicari warga. "Ada yang mempercayai beliau La Mohang Daeng Mangkona asal Sulawesi yang makamnya tidak jauh dari masjid ini. Beliau juga cikal bakal Kota Samarinda," ucapnya.

Seiring waktu untuk menjaga kelestariannya, pada 1999-2001 dilakukan renovasi dengan menambah pondasi cakar ayam dengan tanpa merubah sedikitpun bentuk masjid. Karena proses pengerjaannya hanya dengan mengangkat tiap-tiap sudut masjid secara bergantian dengan dongkrak untuk kemudian dilakukan penambahan pondasi.

Demikian juga dengan renovasi pada menara yang dilakukan 2006. Pengerjaannya juga tanpa merubah bentuk dan struktur bangunan. "Makanya tidak ada yang dilepas. Sebab kalau orang dulu ada pantangan potong kayu. Umpama kepanjangan cuma dipukul saja. Umpama kurang panjang ya ditarik. Itu mengapa ada bangunan yang ketika kayunya dilepas sulit dipasang lagi. Kalau tidak kepanjangan ya kependekan," kata Mujiono.

Hingga kini Masjid Shirathal Mustaqiem masih menjadi pusat aktivitas keagamaan warga Samarinda. Termasuk saat Ramadan, tidak pernah absen menyajikan bubur khas Samarinda tiap harinya pada jamaah untuk buka bersama. (R-7)

BERITA REKOMENDASI