Matahari Lockdown Picu Pelemahan Magnet Bumi

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan pelemahan medan magnet Bumi terkait dengan fenomena Grand Solar Minimum (GSM) atau Matahari Lockdown. Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto mengatakan GSM mempengaruhi polaritas magnet matahari terhadap bumi.

“Ini masih berkaitan dengan grand solar minima (GSM) atau matahari lockdown,” ujar Siswanto.

Siswanto menuturkan jumlah bintik matahari (sunspot) maksimum dan minimum bervariasi dalam siklus ke siklus, seperti halnya siklus 11 tahunan ini. Dia menjelaskan sunspot adalah daerah dengan medan magnet photospheric yang kuat yang memiliki dua polaritas, yakni utara dan selatan.

Adapun hitungannya, lanjut Siswanto bervariasi dengan perkiraan periode 11 tahun. Bahkan, dia berkata siklus medan magnetik matahari justru dua kali lebih lama periodenya, yakni siklus 22 tahunan.

Lebih lanjut, Siswanto menyampaikan pergerakan fluks magnetik ke arah kutub selama siklus bintik matahari mengubah polaritas medan magnet kutub matahari setiap 11 tahun tersebut. Kedua daerah kutub yang sebagai lubang koronal kutub, kata dia, juga mengendalikan energi angin matahari dan medan magnet antarplanet yang sampai ke bumi.

“Medan magnet bumi dipengaruhi oleh angin matahari dan medan antarplanet. Fluks momentum angin matahari menentukan ukuran tebal dan tingkat magnetosfer,” ujarnya.

Lebih lanjut, Siswanto menyampaikan kecepatan angin matahari, kekuatan, dan arah medan magnet antarplanet mempengaruhi kopling energi dari angin matahari ke magnetosfer. Sebagian besar energi ini, lanjut dia, disimpan sementara di magnetosfer untuk akhirnya disimpan di atmosfer atas dalam proses auroral dan arus energi panas.

“Arus-arus ini pada gilirannya menghasilkan medan magnet yang bervariasi waktu yang telah lama terdeteksi di permukaan bumi dan disebut sebagai aktivitas geomagnetik. Banyak indeks telah dikembangkan untuk menandai aktivitas geomagnetik,” ujar Siswanto. (*)

BERITA REKOMENDASI