Media Ikut Dorong Pembangunan Pariwisata

LOMBOK, KRJOGJA.com – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) kembali berkomitmen untuk mencanangkan jurnalisme yang ramah pariwisata. Kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata pun dilakukan. Bentuknya, Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Kila Senggigih Beach Lombok, Jumat (14/12).

Pakar Komunikasi Politik, Kadri, memberikan pandangannya mengenai hubungan media dan pariwisata. Menurutnya, media yang berfungsi sebagai pemberi informasi, Pendidikan, penghibur, pengontrol sosial, dan berperan sebagai lembaga ekonomi dalam fungsi bisnis. Dengan fungsi tersebut, idealnya media bisa memberi manfaat bagi pembangunan pariwisata. Tapi, media juga bisa menghambat perkembangan pariwisata.

“Kenyataan antara bencana dan media. Apa yang diberitakan media, adalah yang dipotret media. Diharapkan sebuah pencitraan yang bagus antara jarak kenyataan dan pemberitaan yang tidak jauh. Ide tentang jurnalisme ramah pariwisata sangat bagus, dalam ramah yang harus aktif. Dituntun harus aktif harus disediakan forum yang di kasih tahu tentang pemberitaan yang baik-baik,” ujarnya.

Kepentingan di balik media, lanjut Kadri, strategi posisi media banyak kepentingan yang ingin memanfaatknnya. Seperti kepentingan penguasa, politis, pemodal, dan lainnua. Ditambahkannya, Isi media juga dipengaruhi banyak kepentingan internal dan kepentingan eksternal. Dari kepentingan individu sampai kepentingan ideologis.

Menurut Kadri, media tradisional dengan media siber memiliki perbandingan seperti sumber informasi, arahan informasi, jangkauan, kecepatan, akses, relasi pengguna, posisi audience, peluang dominasi.

“Kalau media tradisional itu tunggal, satu arah, terbatas, lambat, pada waktu terbatas, ada jarak atau tidak bisa interaktif hanya sebagai konsumen, ada karena sumber tunggal. Bedanya dengan media siber itu banyak, dua arah atau banyak arah, luas, cepat, tidak terikat waktu dan tempat, dekat dan bisa interaktif, konsumen sekaligus produsen, tidak ada karena banyak sumber,” jelasnya.

Kadri menambahkan, pentingnya citra dan image suatu negara. Menurutnya, hal itu antara lain ditentukan oleh image pariwisata. Kunjungan wisatawan mancanegara ke suatu negara, membuat tersebut berstatus aman. (*)

BERITA REKOMENDASI