Membangun Kepedulian Berpolitik Kaum Milenial

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Generasi muda saat ini terkesan kurang peduli dengan politik. Padahal jika berbicara soal bangsa, pasti tak bisa dilepaskan dari dunia politik. Kepedulian inilah yang harus dibangun di kalangan milenial agar para generasi muda bisa memajukan bangsa melalui jalur politik.

Politikus muda dari Partai Golkar, Dico M Ganinduto mengatakan sebenarnya saat ini telah banyak generasi muda yang sudah mengerti politik, namun belum paham benar tentang apa isi di dalamnya. Karena ketidakpahaman tersebut justru membuat kaum milenial salah menilai dan ujung-unjungnya apatis terhadap dunia politik.

"Generasi muda saat ini kurang responsif terhadap dunia politik. Perlu adanya peningkatan agar generasi muda lebih peduli lagi dengan politik," ungkap Dico dalam diskusi bertema 'Milenial Berkarya, Indonesia Maju' dengan dihadiri para mahasiswa yang digelar di De Laxton Hotel Yogyakarta, Senin (30/09/2019).

Dico yang merupakan Ketua Gerakan Milenial (Gema) Golkar ini mengatakan, peran politisi muda sangat diperlukan dalam era yang serba maju seperti sekarang ini. Dari politikus-politikus muda tersebut diharapkan akan muncul ide-ide cemerlang untuk dapat memajukan bangsa.

"Generasi muda harus bisa lebih aktif lagi dalam dunia politik, karena mau tidak mau kemajuan bangsa ini tergantung pada politikusnya. Jadi saya berharap lebih banyak generasi milenial terjun dalam dunia politik," ujar Dico yang saat ini juga menjabat Ketua Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan berniat maju sebagai Wakil Bupati Semarang pada pilkada 2020 mendatang.

Ia tak menampik jika partai juga memiliki tanggungjawab besar dalam memberikan pendidikan politik bagi generasi muda. Partai sebagai wadah serta sarana politik di tanah air harus pula meningkatkan dan memberikan ruang yang lebih kepada kaum muda untuk berekspresi tentang pandangan-pandangan politiknya.

Sementara itu Dosen Fisipol UGM, Abdul Gaffar Karim yang juga menjadi pembicara dalam diskusi ini mengatakan rakyat tidak menyadari ada tugas yang lebih besar bagi dirinya selain sebagai 'voters' (pemilih). Hingga saat ini rakyat masih sibuk menempatkan dirinya sebagai 'voters', padahal pemilu telah usai.

"Yang harus dilakukan rakyat saat ini bukan lagi soal voting, tapi mengawasi dan mengawal demokrasi. Idealisme kekuasaan yang terbesar adalah memastikan generasi milenial itu menjadi 'demos' (rakyat)," jelasnya.

Warga negara menurutnya harus aktif mengawasi kekuasaan, karena jika kekuasaan diawasi maka demokrasi akan terwujud. Namun sebaliknya jika kekuasaan tidak diawasi maka demokrasi akan sulit untuk terwujud.

"Kaum milenial tidak bisa memaksa yang sedang berkuasa untuk idealis,  kita sendiri juga harus idealis. Kita harus ingat, tugas utama kita menjadi 'demos' bukan 'voters'," jelasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI