Mendikbud Ingin Jadikan Kebudayaan Sebagai Penggerak Ekonomi

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, budaya bisa menjadi roda penggerak ekonomi lokal. Ia menuturkan, ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam upaya memajukan kebudayaan.

“Perlu adanya dukungan terhadap inisiatif publik dalam bentuk dana perwalian, membangun ekosistem kebudayaan dan tata kelolanya, serta membangun kesadaran publik,” demikian Mendikbud Nadiem Makarim dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kebudayaan, di Hotel Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

Kebudayaan ada salah satu prinsip yang disampaikan oleh Bung Karno 56 tahun silam. Prinsip tersebut tergabung dalam prinsip Trisakti bersamaan dengan berdaulat secara politik dan berdikari secara ekonomi.

Menurut Mendikbud, selain sebagai penggerak roda ekonomi, kebudayaan juga bisa menjadikan putra putri Indonesia bangga dengan asal daerah mereka. Ia juga menyampaikan pentingnya pelestarian budaya sebagai identitas untuk generasi selanjutnya.

“Di dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan itu ada proses pendidikan untuk generasi berikutnya. Setiap kali kita menunjukkan identitas kita, itu menciptakan penguatan karakter di anak-anak kita, di mana mereka bangga akan asal-usulnya, bangga akan identitas dia, dan bangga atas keberagaman Indonesia yang luar biasa kayanya,” kata Mendikbud.

Menurutnya, dalam hidup ini manusia tidak terlepas dengan budaya. Budaya merupakan warisan yang bernilai luhur, identitas dan ciri khas suatu bangsa. Secara tidak langsung budaya memberikan pedoman bagi manusia untuk berperilaku secara bermartabat dan bersahaja. Selain itu, katanya, pendidikan dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. “Di benak kami, pendidikan itu tidak mungkin bisa menjadi suatu hal yang efektif tanpa ada unsur budaya dan seni yang kuat. Itu sudah, bagi saya itu harga mati,” tutur Mendikbud

Nadiem juga meminta para pegiat kebudayaan tidak membuang-buang uang untuk memasarkan suatu kebudayaan.

“Jangan buang-buang uang buat pemasaran. Buang-buang uang untuk pengembangan. Pemasaran akan otomatis bagus kalau produk itu bagus. Pokoknya kalau ada mangga yang manis itu bakal kebeli di pasar bakal habis. Nggak usah dipasarin itu mangganya, ibu-ibu akan ngomong-ngomong. Apalagi dunia socmed sekarang,” kata Nadiem .

World of mart adalah orang yang akan datang ke situ dan saking bagusnya, saking serunya dia nge-post di Instagram atau di Facebook. Itulah satu-satunya marketing yang akan efektif bagi pengunjung. Mau kita iklanin sebanyak apa pun itu namanya bakar duit aja,” ujar Nadiem.Nadiem menjelaskan, di era modern saat ini, bentuk pemasaran sebuah kebudayaan yang paling efektif adalah media sosial. Menurut Nadiem, turis yang terpuaskan saat mengunjungi satu situs kebudayaan otomatis akan menyebarkan pengalamannya di media sosial.

“Jangan lupa tradisi itu bukan hanya tarian dan nyanyian. Budaya itu bukan hanya tarian dan kostum. Budaya adalah apa yang bikin orang kota mengetahui cara mereka hidup itu akan mengangetkan atau bikin ‘Wow, saya baru tahu itu bisa seperti itu’,” kata Nadiem.

Kebudayaan merupakan sebuah pengalaman baru yang dapat diberikan kepada para turis.(ati)

BERITA REKOMENDASI