Menristekdikti Harap Dana Riset Tembus Rp30 Triliun

DENPASAR, KRJOGJA.com – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengharapkan alokasi dana abadi riset dapat segera tembus Rp30 triliun guna mendorong percepatan pelaksanaan dan pengembangan riset, teknologi serta inovasi.
 
"Dengan keluarnya UU Sisnas Iptek (Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), ada dana abadi yang telah kita alokasikan pada 2020 sebesar Rp5 triliun, dan tahun 2019 Rp1 triliun, kalau bisa di angka Rp30 triliun," kata Nasir dalam pembukaan kegiatan ilmiah sebagai bagian dari rangkaian acara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-24 di Denpasar, Provinsi Bali.
 
Pada pertengahan 2019, dana abadi riset sebesar Rp999 miliar dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai upaya dalam mendukung tumbuh kembangnya penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, riset dan inovasi di Indonesia.
 
Nasir mengatakan kemajuan dan kemandirian daya saing bangsa bergantung pada kemajuan inovasi. Untuk itu, ekosistem inovasi yang kondusif harus terus dibangun termasuk melalui dana abadi yang menjadi dukungan pendanaan pengembangan riset dan inovasi Indonesia.
 
Nasir menuturkan peringatan Hakteknas ke-24 yang dipusatkan di Bali akan menjadi satu momentum dalam menggairahkan ekonomi kreatif di Indonesia dan mendorong lahirnya berbagai inovasi dari daerah.
 
Selain itu, dia mengharapkan akan terbentuk kawasan sains dan teknologi (science techno park) di seluruh daerah di Indonesia ke depan untuk memajukan daerah dan bangsa Indonesia. Dia menginginkan Indonesia mengalami berbagai kemajuan termasuk dalam bidang ekonomi dan teknologi seperti Korea Selatan.
 
"Mudah-mudahan dengan pembangunan ekonomi kreatif Indonesia makin maju dan daerah bisa memunculkan inovasinya," ujarnya. []
 
Nasir juga meenyebutkan  saat ini Indonesia sudah mengalahkan Asia Tenggara untuk kuantitas riset. 
 
"Kalau pekerjaan, di mana riset di Indonesia dulu tahun 2014 atau di akhir 2014 hanya 5.250 loh, Thailand sudah 8 ribu loh, Singapura 18 ribu, Malaysia 28 ribu, sekarang posisinya Malaysia 33.175 Indonesia sudah 33.750 kita sudah lebih besar. Sekarang kita lebih besar di Asia Tenggara, ini di internasional loh ya," kata Nasir .
 
Tak hanya itu, Nasir juga menyebut jumlah paten yang didaftarkan Indonesia juga sudah menempati posisi utama se-Asia Tenggara. Sekarang, Indonesia sudah bisa mengalahkan Singapura dan Malaysia. 
 
"Kedua masalah paten yang tadinya rendah sekarang Indonesia nomor satu di Asia Tenggara kita sudah 2.670, Singapura 2.025, Malaysia di bawah lagi. Ini dalam inovasi sekarang. Bagaimana meningkatkan kualitas, jadi kita tidak cukup jumlahnya makin banyak tapi kualitasnya kita dorong supaya lebih baik lagi," ujarnya. 
 
Nasir menambahkan saat ini pihaknya juga sudah mendorong para peneliti yang berada di luar negeri untuk kembali ke Indonesia. Dia berjanji bakal memberikan fasilitas yang baik bagi mereka untuk berinovasi. 
 
"Kami sekarang kami lakukan harmonisasi, sekarang sudah banyak peneliti kembali dari negara asing, dari diaspora kita undang karena kami fasilitasi dengan baik," tuturnya.
 
Ditambahkan, saat ini Kemenristek juga sudah berupaya untuk meningkatkan kualitas hasil penelitian. Salah satunya melalui peningkatan insentif para peneliti maupun dosen di perguruan tinggi. 
 
"Honor dosen peneliti inilah kami sudah minta pak sekjen sudah kami bicarakan supaya para peneliti mendapat penghasilan yang lumayan. Jangan sampai tidak mendapat penghasilan yang tidak layak ini masalah, inilah yang kami dorong. Saya akan mengajukan ke presiden, uu saja baru turun ini lewat KSP terus sekarang peneliti dari usia sampai 70 tahun," jelas Nasir.(ati)
 
 
 
 
 
 

BERITA REKOMENDASI