Mensos Buka Diklat E-Learning P2K2

Editor: KRjogja/Gus

MASA Pandemi seperti saat ini tidak menyurutkan Kementerian Sosial melalui Badan Pendidikan, Penelitian dan Penyuluhan Sosial (BP3S) @badiklitpensos untuk tetap berkomitmen menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan dalam rangka meningkatkan SDM Kesejahteraan Sosial yang merupakan garda terdepan pelaksanaan program-program kesejahteraan sosial. Karena itu, BP3S mengadakan Diklat E-learning P2K2/Family Development Session (FDS) Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Yogyakarta. Diklat dibuka secara virtual oleh Menteri Sosial Juliari P Batubara, Senin (29/6).

Kepala Badan Pendidikan Penelitian dan Penyuluhan Sosial (BP3S), Prof Syahabuddin, menjelaskan, diklat gelombang kedua ini diikuti 420 peserta dari Jawa Tengah (Pemalang, Cilacap, Brebes, Pati, Wonosobo, Magelang, serta Grobogan) dan Jawa Timur (Banyuwangi, Jember, Probolingga, Pasuruan, Malang, Surabaya, Nganjuk, dan Bojonegoro.) Kegiatan di BBPPKS Yogyakarta berlangsung 21 hari.

“Saya berharap setelah diklat di BBPPKS Yogyakarta peserta memperoleh ilmu sebagai bekal untuk mendampingi penerima manfaat di daerah masing-masing yang setiap daerahnya memiliki latar belakang dan karakter penerima manfaat yang berbeda-beda. Kearifan lokal berbeda-beda,” kata Prof Syahabuddin.

Dalam pengarahannya, Menteri Sosial RI, Juliari Batubara memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kerja keras teman-teman pendamping di lapangan yang merupakan ujung tombak program PKH. Tanpa adanya kerja keras dan dedikasi para pendamping, program PKH tidak akan terealisasi, apalagi dengan kondisi pandemik Covid-19 pendamping masih bekerja dengan baik.

Juliari berharap di masa ‘new normal’ ini program PKH tetap dapat berjalan sukses dan berkontribusi langsung dalam upaya mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Pendataan terhadap keluarga miskin baru harus dilakukan dengan lebih cermat agar program PKH tepat sasaran. Pendamping diharapkan dapat mengantarkan keluarga penerima manfaat dari pra sejahtera menjadi lebih sejahtera dan graduasi secara mandiri.

“Perlu satu pemikiran dan satu tekad dalam menghadapi keluarga yang berbeda-beda latar belakang dan tujuan, ada yang senang dibantu terus, dan ada yang semangat dan disiplin agar cepat mandiri,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI