Mensos: Indonesia Butuh Pahlawan dari Generasi Milenial

Editor: KRjogja/Gus

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita melecut motivasi dan nasionalisme ratusan generasi muda yang memadati Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta. 

Di hadapan sekitar 650 pelajar dari 34 SMA se-Jabodetabek, Mensos menyatakan bahwa istilah “pahlawan’ tidak hanya terkait dengan masa lalu. “Kalian sendiri dari generasi milenial, suatu saat bisa menjadi pahlawan. Negara ini membutuhkan pahlawan dari generasi milenial. Maka, jadikan semangat perjuangan pahlawan di masa lalu, sebagai inspirasi kalian dalam berkarya,” kata Mensos, dalam sambutannya pada kegiatan “Pahlawan Goes To School” di Gedung Konvensi TMPNU Kalibata, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Kepada generasi milenial ini, Mensos memaklumi, bila istilah “pahlawan” lebih banyak dilekatkan dengan masa lalu. Mensos mencuplik ketentuan pada Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. 

“Di sini disebutkan bahwa, pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara,” kata Mensos.

Menurut Mensos, perjuangan berat para pahlawan mengusir penjajah ini, pada akhirnya mengantar pada kemerdekaan sebagaimana kita nikmati bersama. “Maka perjuangan mereka patut diapresiasi dan hasilnya berupa kemerdekaan disyukuri. Yang tidak kalah penting, perjuangan mereka juga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua,” kata Mensos.

Mensos mengajak generasi “jaman now” ini untuk menyerap nilai-nilai kepahlawanan untuk kemudian ditransformasikan pada kondisi milenial saat ini. “Nilai-nilai tersebut adalah nilai cinta tanah air, rela berkorban, berani memulai, peduli, berbagi, ikhlas dan toleran. Nilai kejuangan lainnya adalah pengabdian diri yang bermanfaat untuk kemaslahatan diri, lingkungan sekitar, bagi bangsa dan negara,” kata Mensos.

Dalam rangkaian kegiatan Hari Pahlawan Tahun 2018, kata Mensos, memang sengaja melibatkan generasi muda, termasuk kegiatan “Pahlawan Goes To School”.  Kegiatan ini dalam rangka memberikan pemahaman kepada generasi muda, betapa berat, sulit, dan butuh pengorbanan luar biasa, yang sudah diberikan pahlawan masa lalu, untuk meraih kemerdekaan bangsa.

Di masa kini tidak ada lagi perjuangan bersenjata. Tapi sosok pahlawan masih bisa hadir, dan dimungkinkan oleh Undang-Undang. Menurut Mensos, yang menarik pada UU Nomor 20 Tahun 2009 di atas, ketentuan tentang sosok pahlawan tidak hanya berhenti di situ.

“Ada kelanjutannya yang berbunyi: ‘atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia’,” kata Mensos.

Mensos menafsirkan, ketentuan ini berarti memberikan ruang bagi siapapun untuk menjadi pahlawan. “Termasuk kalian, dari generasi milienal juga bisa menjadi pahlawan,” kata Mensos.

Oleh karena itu, Mensos berharap melalui kegiatan “Pahlawan Goes To School” bisa menjadi terobosan untuk mengenal perjuangan pahlawan dan berdiskusi lebih jauh tentang pewarisan nilai kepahlawanan bagi generasi muda.

“Kegiatan ini sangat penting, meskipun pelajaran sejarah perjuangan bangsa juga dianjurkan di sekolah, namun melalui kegiatan “Pahlawan Goes To School” bisa ikut mengenal perjuangan pahlawan dan berdiskusi lebih jauh tentang pewarisan nilai kepahlawanan bagi generasi muda,” kata Mensos.

Mensos juga menyatakan, kegiatan “Pahlawan Goes To School” yang dilaksanakan saat ini, nantinya akan dilaksanakan pula di kota-kota lainnya di Indonesia yang memiliki nilai strategis.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Pepen Nazaruddin menyatakan, kegiatan kali ini merupakan rangkaian dari kegiatan memperingati Hari Pahlawan Tahun 2018 yang sudah dilakukan sebelumnya, seperti Wisata Sejarah, Jelajah Kapal Kepahlawanan, dan Tabur Bunga.

“Tujuannya adalah melestarikan nilai – nilai kepahlawanan terutama di kalangan generasi muda milenial. Metoda kegiatannya melalui diskusi dialog dengan mengundang narasumber dari kalangan milenial,” kata Pepen.

Kegiatan ini diawali dengan pemutaran film perjuangan, ice breaking serta game, kemudian dilanjutkan dengan Dialog Kepahlawanan dipandu host Putri Ayudya, Putri Indonesia Intelegensia 2011. Para narasumber ada yang berasal dari kalangan artis, dan animator yang prestasinya sudah mendunai. “Ini memang sebagai inspirasi dan teladan, agar peserta bisa mengikuti prestasi mereka berbuat terbaik untuk bangsa,” kata Pepen.

Ketua Umum Peringatan Hari Pahlawan, Agustanzil Syahroesyah menambahkan, para pelajar yang terpilih menjadi peserta kali ini, diproyeksikan menjadi inti, yakni unsur pemersatu di lingkungan masing-masing.

“Diharapkan mereka mengembangkan pemahaman tentang pentingnya karakter pejuang yakni ikhlas, jujur, berani, cinta tanah air, perduli bangsa dan rela berkorban untuk bangsa dan negara,” kata Agustanzil.

Turut hadir dalam acara ini sebagai narasumber Ketua Komisi VIII DPR RI Ali Taher, sejarawan JJ Rizal, animator film Hollywood dari Indonesia Andre Surya, aktris muda milenial Elena Joerg, dan peneliti dan sejarawan asal Belanda, Harry A. Poeze.

Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Sosial RI

BERITA REKOMENDASI