Mitigasi Pendidikan Bencana Kurangi Risiko

JAKARTA, KRJOGJA.com – Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster).

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara kepada wartawan di Jakarta, Kamis (27/12/2018) menjelaskan kondisi geografis menjadikan Indonesia sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. 

"Pendidikan dan mitigasi bencana menjadi elemen penting untuk mengurangi risiko bencana. Karena itu, Presiden Joko Widodo meminta agar pendidikan bencana masuk dalam kurikulum pendidikan di sekolah," ujarnya.

Sebelumnya pada tahun 2017, United Nations International Strategy for Disaster Reduction merinci komponen-komponen penting yang harus dipenuhi dalam pengurangan risiko bencana, antara lain interaksi dengan sumber bencana, keterpaparan, kerentanan, dan kapasitas. 

"Setiap kejadian bencana selalu memberikan kita pelajaran-pelajaran baru yang penting. Instruksi Presiden adalah momentum tepat karena kecenderungan masyarakat kita cenderung cepat melupakan bencana,” jelas Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara.

Menurut Herry, masyarakat lokal sebetulnya punya potensi pengetahuan karena mereka punya kedekatan dengan alam. “Namun jika ada kejadian-kejadian luar biasa, mereka belum tentu siap. Karena itu diperlukan pendidikan bencana yang sesuai dengan karakteristik dan diperbarui sesuai dengan kejadian-kejadian bencana terbaru dan latihan secara terus menerus sehingga akan terus dengan muda diingat,” tuturnya.

Penelitian di Jambi menyoroti isu kebakaran hutan dan banjir. Peneliti menemukan fakta upaya mitigasi bencana masih terbatas . Rumah-rumah penduduk desa yang umumnya bertiang dan terbuat dari papan kayu relatif aman terhadap banjir, tetapi tidak mampu melindungi dari asap kebakaran hutan dan lahan. 

"Penduduk belum memahani konsep safe house yang aman saat bencana banjir dan kebakaran hutan. Padahal ini sangat dibutuhkan, terutama oleh kelompok rentan seperti bayi dan balita, anak-anak dan lansia,” jelas Herry. 

Dia mendesak pemerintah untuk mendorong kepedulian penduduk dan melakukan upaya mitigasi struktural secara optimal misalnya dalam perbaikan tanggul penahan banjir. “Juga integrasi program dan kegiatan serta pembentukan berbagai kelembagaan masyarakat untuk mencapai tujuan pengurangan risiko bencana di Provinsi Jambi,” jelasnya. (Ati)

BERITA REKOMENDASI