Mitigasi Tsunami, BPPT Andalkan Baruna Jaya I

RENTETAN bencana yang menerjang sejumlah wilayah Indonesia selama kurun 2018 telah merenggut ribuan korban jiwa. Tak ayal, hal ini menjadi perhatian semua pihak, bahkan dunia.

Minimnya alat deteksi dini bencana menjadi persoalan yang kerap mengiringi peristiwa ini. Salah satu bencana yang menjadi sorotan ialah tsunami. Masih segar dalam ingatan masyarakat Indonesia tentang dahsyatnya gempa yang disusul tsunami di wilayah Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Tak hanya itu, di sana juga terjadi fenomena alam bernama likuifaksi, yakni mengencernya permukaan tanah sehingga menenggelamkan segala sesuatu yang ada di atasnya. Ribuan jiwa bergelimpangan.

Masyarakat sempat terkecoh oleh fenomena tersebut karena tidak ada peringatan dini dari BMKG. Namun setelah air bah masuk ke daratan, BMKG langsung meralat peringatan gelombang pasang menjadi tsunami.

Masyarakat yang menjadi korban ganasnya air laut itu pada umumnya tengah berada di bibir pantai. Mereka terkaget-kaget tiba air bah langsung menghantam dan memporak porandakan permukiman. Fenomena tsunami di Selat Sunda tidak didahului oleh gempa. Air bah tiba-tiba terdorong ke daratan akibat terjadinya longsoran Gunung Anak Krakatau.

Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan (Teksurla) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Muhammad Ilyas mengatakan, pihaknya baru sadar tsunami dapat disebabkan oleh aktivitas gunung api laut. Ke depan diperlukan teknologi deteksi dini yang dapat memonitor aktivitas vulkanik yang berpotensi membangkitkan tsunami.

"Kami di sini baru sadar tsunami itu bisa juga dibangkitkan oleh gunung api bawah laut. Kalau kita pasang buoy itu ya kemungkinan juga akan ambruk dan rusak," ujarnya belum lama ini.

 

Ilyas menuturkan, BPPT mempunyai teknologi untuk meneliti kondisi gunung api laut hingga meneliti struktur tanah bawah laut. Hal ini dapat membantu untuk membuat sistem peringatan dini tsunami yang lebih komprehensif. Apalagi, saat ini alat deteksi dini disebut tidak ada.

Hal yang tak kalah penting dari alat deteksi tsunami yakni aspek mitigasi. Menurut Ilyas, BPPT berencana ikut berkontribusi menyiapkan mitigasi yang komprehensif terkait bencana yang penyebabnya berasal dari laut.

Hal yang tak kalah penting dari alat deteksi tsunami yakni aspek mitigasi. Menurut Ilyas, BPPT berencana ikut berkontribusi menyiapkan mitigasi yang komprehensif terkait bencana yang penyebabnya berasal dari laut.

"Kita siap dengan kapal (riset) Baruna Jaya. Di 2020 sampai 2024 kami mengusulkan semoga disetujui Bappenas, mengoptimalkan teknologi Kapal Baruna Jaya untuk ikut berkontribusi dalam mitigasi bencana di laut," ucap Ilyas.

"Baruna Jaya II bisa digunakan seismiknya, melihat dasar laut sampai kedalaman 5.000 meter. Kita juga bisa lihat struktur tanah di bawah laut. Lalu Baruna Jaya I bisa untuk memetakan gunung bawah laut. Bisa kita inventarisir daerah mana gunung laut. Bisa kita inventarisir daerah mana gunung bawah laut yang aktif atau tidak. Semua ada," sambung dia. (*)

 

BERITA REKOMENDASI