Mukidi Mampu Bersaing dengan Meme Digital, Ini Rahasianya

CERITA Mukidi adalah konten berbasis teks yang mampu bersaing dengan konten seperti foto, meme, video pendek serta konten audi visual lainnya, yang memang jauh lebih cepat dicerna ketimbang tulisan.
 
Direktur Eksekutif Komunikonten Institut Media Sosial dan Diplomasi Hariqo Wibawa Satria menjelaskan sepanjang 2012 hingga 2016, konten tulisan yang panjang-panjang ‘tersingkir’ oleh konten seperti foto, meme video pendek yang cepat dicerna.

"Konten yang paling cepat diproduksi adalah foto dan video kejadian, begitu ‘cekrek’, bisa langsung diupload di media sosial atau grup percakapan. Bisa jadi viral bisa juga tidak. Tulisan termasuk konten yang sulit, butuh imajinasi tinggi dan gaya penyajian yang pas," jelas Hario sebagaimana keterangan persnya, Minggu (28/08/2016)

Namun, lanjut Hariqo, dengan menjadi viralnya cerita Mukidi di berbagai grup layanan pesan instan, media sosial, membuktikan bahwa konten tulisan mampu bersaing di era digital. Hal ini menjadi bukti masyarakat masih suka membaca tulisan panjang sehingga menjadi kabar gembira dan motivasi bagi para penulis.

"Cerita Mukidi yang berbasis teks hadir ditengah dominasi foto, meme, video pendek. Selera masyarakat tidak berubah, konten yang paling disukai adalah yang lucu dan menghibur. Cerita Mukidi punya kekuatan di Mukidinya, banyak cerita Mukidi yang hits, sehingga jika ada cerita baru Mukidi bisa dianggap sama lucunya dengan cerita sebelumnya”, jelas Hariqo Wibawa Satria.

Dia menambahkan dari Soetantyo Moechlas (Penulis Cerita) Mukidi memiliki pesan konten tulisan akan tetap eksis di dunia digital. Tergantung isi konten dan seberapa konsisten  memproduksinya. Kedua, dunia konten adalah milik siapa saja yang berani produksi, bukan dominasi anak muda."Orang berusia 62 tahun seperti Pak Soetantyo bisa mengalahkan generasi muda yang masih jadi penikmat konten”, tandasnya. (*)

Baca Juga :

Mengungkap Jati Diri Mukidi

Inilah Sosok Dibalik Popularitas Mukidi

BERITA REKOMENDASI