Neraca Dagang Surplus US$ 2,09 Miliar

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$2,09 miliar secara bulanan pada Mei 2020. Realisasi tersebut lebih baik dari defisit US$350 juta pada April 2020 dan surplus US$210 juta pada Mei 2019.

Secara total, neraca perdagangan surplus US$4,31 miliar pada Januari-Mei 2020. Realisasi ini lebih baik dari defisit US$2,14 miliar pada Januari-Mei 2019. “Terciptanya surplus ini kurang menggembirakan karena ekspor tumbuh negatif, begitu juga impor turun curam,” ungkap Kepala BPS Suhariyanto.

Ia mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$10,53 miliar atau turun 13,4 persen dari April 2020. Sementara, nilai impor hanya mencapai US$8,44 miliar atau anjlok 32,65 persen dari bulan sebelumnya.

Secara rinci, kinerja ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas (migas) mencapai US$10,53 miliar atau naik 15,64 persen dari bulan sebelumnya. Sementara ekspor nonmigas sebesar US$9,58 juta atau turun 14,81 persen.

Peningkatan nilai ekspor migas terjadi karena harga ICP naik dari US$22,6 menjadi US$25,67 per barel atau meningkat 24,25 persen. Begitu juga dengan harga batu bara turun 10,41 persen, minyak sawit turun 5,75 persen, dan juga minyak kernel,

“Sementara komoditas yang harganya meningkat adalah tembaga, nikel, timah, coklat, emas, dan karet,” katanya.

Penurunan ekspor nonmigas terjadi karena ekspor industri pertanian turun 16,97 persen menjadi US$240 juta. Lalu, industri pengolahan melemah 14,92 persen menjadi US$8,31 miliar. (*)

BERITA REKOMENDASI