Neraca Pembayaran Diramal Defisit US$8 Miliar

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Anak Indonesia (BI) memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) akan surplus mencapai US$4 miliar pada kuartal IV 2018. Proyeksi ini membaik dari posisi neraca pembayaran pada kuartal III 2018 yang defisit sebesar US$4,4 miliar.

Meski surplus di kuartal akhir, neraca pembayaran Indonesia sepanjang tahun ini kemungkinan masih akan defisit sebesar US$8,1 miliar. Hal ini seiring dengan kumulatif defisit neraca pembayaran yang mencapai sekitar US$12,5.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan neraca pembayaran bakal surplus pada kuartal ini karena aliran modal asing yang masuk ke Tanah Air melalui Penanaman Modal Asing (PMA). Ia mengklaim hal ini terjadi karena pelaku pasar kembali mempercayai kondisi pasar keuangan Indonesia.

"Di portofolio dan investasi lain juga jauh lebih besar," ujar Perry di Kompleks Gedung BI.

Tak hanya karena aliran modal asing meningkat, Perry bilang, surplus juga dipengaruhi oleh membaiknya mekanisme di pasar valuta asing (valas). Hal ini karena munculnya beberapa instrumen baru di pasar uang yang mampu menambah likuiditas di pasar.

"Dulu hanya spot atau tunai, sekarang ada swap dan DNDF," terangnya.

Lebih lanjut, derasnya aliran modal asing turut menguatkan nilai tukar rupiah. Rupiah yang semula sempat tembus hingga Rp15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), kini berkisar Rp14.500 per dolar AS. Volatilitas rupiah saat ini berkisar 7-8 persen.

Sayangnya, menurut Perry, meski neraca pembayaran sudah berbalik surplus, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) tetap bengkak. Proyeksinya mencapai di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV 2018. (*)

BERITA REKOMENDASI