Pariwisata Tekan Kemiskinan di Indonesia

JAKARTA, KRJOGJA.com – Mantan Menteri Pariwisata  I Gede Ardika mengatakan, kunci dasar untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah dengan pariwisata. Pasalnya di sektor akan bisa mengembangkan ekonomi, sosial, budaya dan juga politik.

“Jadi kepariwisataan akan bisa mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia, karena bisa mengembangkan ekonomi, sosial, budaya dan juga politik,” katanya saat peluncuran buku Kepariwisataan Berkelanjutan, di Jakarta, Kamis (29/11).

Dikatakan, masyarakat miskin terbesar menurut Badan Pusat Statistik ( BPS) terutama di sektor pertanian dan nelayan. Karena itu, kepariwisataan harus manyasar sektor ini, agar masyarakat bisa memanfaatkan sosial, budaya. Selain itu mereka juga perlu diberikan pemahaman tentang pelestarian lingkungan. Apalagi lingkungan semakin dilestarikan, maka akan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Ardika, dalam bukunya, yang mengulas bagaimana pembangunan pariwisata di Indonesia yang bertumpu pada konsep, prinsip-prinsip, serta cita-cita dan tujuan sebagai bagian integral dalam pembangunan nasional.
Selain itu falsafat kepariwisataan Indonesia yang bertumpu pada nilai-nilai dasar sebagai bangsa yang religius, menjadi acuan tertinggi yang diturunkan dalam nilai luhur agama, mengatur konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan lingkungan alam dalam upaya mencapai kebahagiaan.

Sementara itu dalam lingkup kehidupan bernegara, acuan dasar kepariwisataan Indonesia adalah UUD NRI 1945 utamanya preambule dan Pancasila, sedangkan dalam hubungan internasional acuan kepariwisataan bertumpu pada Kode Etik Kepariwisataan Dunia yang telah disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Melalui buku ini, saya ingin memberikan peningkatkan pemahaman secara komprehensif dan melakukan streamlining kepada para pembaca tentang kepariwisataan berkelanjutan dalam praktek pembangunan nasional untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkualitas,” tegasnya. 

Dalam acara bedah buku yang menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Prof. Dr. M. Baiquni (Pascasarjana UGM) ,I Gusti Agung Kertiyasa (Bali Tourism Board), Pieter P Gero (Kompas Gramedia), dan Rus Suharto (Disparbud Prov DKI Jakarta) untuk membahas bagaimana perjuangan Ardika sebagai penggagas konsep wisata desa yang dipresentasikan pada Sidang Umum UNWTO di Santiago, Chili, pada 1999 saat pengesahan Kode Etik Pariwisata Dunia (Global Code of Ethics for Tourism).
 
Global Code of Ethics for Tourism menempatkan pariwisata sebagai hak asasi manusia, yang di dalamnya antara lain mengatur etika kepada wisatawan dunia agar menghormati budaya dan adat-istiadat masyarakat yang dikunjungi. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI