Partisipasi Masyarakat, Kunci Sukses Pembangunan Desa

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan, kunci sukses pembangunan di desa adalah partisipasi masyarakat.

Pernyata tersebut disampaikan Menteri Eko Putro Sandjojo, saat menjadi pembicara kunci dalam dialog Teras Kita yang diselenggarakan KAGAMA dan sebuah media nasional dengan tema “Mewujudkan Masyarakat Desa Mandiri” di Jakarta, Kamis (29/03/2018).

"Dengan dialog ini kita mendapatkan feedback mana yang perlu diteruskan dan diperbaiki. Pengawasan sudah lebih bagus. Media bantu sosialisasikan desa-desa yang sukses untuk di-copy, dan partisaipasi masyarakat sangat penting sekali," kata Menteri Eko.

Dialog Mewujudkan Masyarakat Desa Mandiri juga menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi yaitu Guru Besar Fisipol UGM, Susetiawan, Ketua APDESI Sindawa Tarang, dan Kepala Desa Pandak, Rasito.

Menteri Eko memang terbilang aktif melakukan dialog dengan berbagai elemen masyarakat untuk mensosialisasikan pembangunan desa. Melalui akun-akun media sosialnya, Eko bahkan rajin mengajak para pendamping desa untuk melaporkan hasil pembangunan di desa masing-masing. "Ini perlu agar publik tahu untuk apa saja dana desa dipergunakan. Semuanya harus transparan,” jelasnya.

Sekjen PP KAGAMA AAGN Ari Dwipayana menyampaikan, kolaborasi antara KAGAMA dengan Kemendes PDTT adalah untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ke depan dalam pembangunan desa, mengingat jumlah dana desa yang dialokasikan ke desa semakin besar. Dampaknya harus dilihat, apakah akan berdampak pada penurunan kemiskinan dan ketimpangan sosial atau tidak. 

Menurut Ari Dwipayana, semua elemen masyarakat harus bersama-sama mendorong supaya dana desa yang semakin besar itu bisa memunculkan partisipasi warga sehingga pembangunan desa bisa berkelanjutan dan mandiri. Dengan demikian, desa bisa mandiri secara politik, mandiri secara ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan atau karekter. 

"Tiga kunci pokok itu (partisipasi, kemandirian ekonomi, dan kebudayaan) yang harus diperkuat,” tegas Ari.

Ia menambahkan, membangun desa tidak sekadar membangun di desa. Karena, kalau membangun di desa artinya sama dengan orang luar yang membangun desa. 

Padahal masyarakat desa memiliki modal sosial yaitu kekuatan masyarakat desa dalam upaya memperkuat, memberdayakan, menggerakan pembangunan di desa. "Partisipasi masyarakat menjadi kekuatannya," ujar Ari.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi II Budiman Sudjatmiko mengatakan, kalau Indonesia mau maju, investasinya pada neuron/otak dan silicon, setelah infrastuktur. Menurutnya, kesenjangan akan muncul bukan karena orang terlalu miskin tapi karena segelintir orang terlalu produktif. 

Mesin yang dikuasai sekelompok korporasi, tidak perlu lagi pacul dan ribuan orang desa. Disitulah, investasi akan otak menurutnya jadi penting. "Kita dorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), lembaga riset perguruan tinggi, penggiat desa, kolaborasi kerja sama dengan desa. Beri beasiswa anak desa yang cerdas. Uang ada ditambah kreativitas, di situlah investasi SDM," ujarnya.

Dari BUMDDes yang ada, keuntungannya selain untuk pengembangan usaha, dipakai juga untuk beasiswa. "Kemudian buat ikatan dinas, anak-anak desa yang cerdas, sekolahkan, kelola desa setelah jadi sarjana. Inovasi dan kreativitas, kuncinya,” tambah Budiman. (Imd)

BERITA REKOMENDASI