PBNU Menilai Full Day School akan Ciptakan Anak Radikal

Editor: Ivan Aditya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menilai kebijakan lima hari sekolah atau Full Day School akan menciptakan anak-anak yang radikal karena minimnya pengetahuan soal agama Islam. Peraturan soal lima hari sekolah itu tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016.

Ketua Tanfidziyah PBNU KH Marsyudi Syuhud mengatakan kebijakan Mendikbud itu bisa berisiko menciptakan anak yang radikal  karena porsi pendidikan agama yang minim. Dia mengatakan Pada pasal 5 Permendikbud disebutkan, Madrasah Diniyah termasuk dalam kegiatan ekstrakurikuler dan berada di nomor 'buntut' atau nomor 10. Kebijakan itu akan membuat anak berada di sekolah seharian.

Marsyudi menilai, hal ini seakan Madrasah Diniyah hanya punya porsi 10 persen dalam kegiatan sekolah. Selain itu, kegiatan ini masih dibagi lagi menjadi beberapa kegiatan, termasuk ceramah agama dan pesantren kilat.

"Ketika demikian, yakinlah, orang memahami agama Tauhid-nya saja, nanti belum benar, jangan salahkan nanti jika Tauhid-nya belum benar, maka akan jadi anak-anak hanya memacu senang beragama, tapi tidak tahu agama dengan benar. Akan menakutkan, menjadi orang-orang radikal," ujarnya.

Porsi keagamaan yang sedikit itu, lanjutnya, tak akan membuat anak memahami akidah dengan benar. Pada pasal 5 memang dijelaskan mengenai pembagian kegiatan sekolah yakni intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Dia menjelaskan kurikulum sekolah Madrasah Diniyah yang menerapkan jam belajar serta jumlah mata pelajaran minimalis. Kendati minimalis, ia menilai delapan mata pelajaran yang diterapkan di sana mampu membuat anak punya akidah yang baik serta mampu beradaptasi. (*)

NU

BERITA REKOMENDASI