Pelajar Muhammadiyah Harus Sebarkan Gerakan Revolusi Mental

Editor: Ivan Aditya

MATARAM, KRJOGJA.com – Untuk target tercipta generasi penerus berkarakter di negeri ini, pelajar Muhammadiyah harus turut sebarkan gerakan revolusi mental.

“Pelajar Muhammadiyah dituntut menerapkan pendidikan karakter dan menjadi panutan dalam gerakan revolusi mental, ” kata Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental Kemenko PMK Didik Suhardi, Senin (27/09/2021).

Selama ini, kata dia Muhammadiyah telah menerapkan pendidikan karakter di seluruh lembaga pendidikan yang dipunyai. Maka itu, pelajar Muhammadiyah harus menerapkan dalam kehidupannya, sehingga menjadi pelopor dan teladan dalam gerakan revolusi mental bagi pelajar yang lain.

“Moral knowing, moral feeling dan moral action yang dikatakan oleh Thomas Lickona harus dilaksakan secara simultan,” kata dia.

Dia mengatakan itu pada Workshop Pendidikan Karakter dengan tema ‘Mengembangkan Pelajar sebagai Influencer Revolusi Mental di Kalangan Pelajar’. Kegiatan digelar di Aula Pertemuan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Nusa Tenggara Barat. Kegiatan tersebut diadaan secara hybrid (luring dan daring) untuk mencegah penularan Covid-19.

Workshop dihadiri oleh pelajar Muhammadiyah Mataram NTB. Kegiatan merupakan tindak lanjut MoU antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam Gerakan Revolusi Mental.

Ketua Umum PP IPM Nashir Efendi mengatakan tujuan workshop adalah untuk menghasilkan agen revolusi mental yang berkemajuan. Agar mereka mampu mendorong pembangunan sumber daya manusia dan kebudayaan Indonesia. “Indonesia membutuhkan generasi penerus yang berkarakter, berakhlak untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia,” kata dia.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Nusa Tenggara Barat Falahuddin berharap kegiatan mampu menyeimbangkan antara harokah ilmiah dengan harokah amaliah. “Sepintar apapun jika kita tidak memiliki prilaku dan karakter yang baik maka tidak akan sukses,” tegasnya.

Project Coordinator Peace Generation, Mifahul Huda mengatakan pelajar Muhammadiyah harus memiliki sikap moderat dan proporsional dalam menilai sesuatu. Sebab salah satu tantangan bangsa saat ini adalah masih adanya bibit-bibit intoleransi dan ujaran kebencian (hate speech). “Bibit-bibit intoleransi dan ujaran kebencian harus dikikis, karena itu yang menghancurkan bangsa dan negara ini,” kata dia.

Koordinator Tim Kerja PP Muhammadiyah, Faozan Amar mengajak kader IPM untuk terus menjadi agen pembawa perubahan (agen of change) yang baik bagi bangsa dan negara. IPM, katanya peran sertanya dalam membawa perubahan harus terus ditingkatkan. Indonesia membutuhkan generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan bangsa ini. “Karena pelajar dan anak muda hari ini akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan,” kata dia. (Osy)

BERITA REKOMENDASI