Pelaku Industri Batik Dituntut Memahami Kebutuhan Pasar

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Orientasi pasar menjadi salah satu fakto lemahnya perkembangan batik di tanah air. Para pelaku industri batik masih cenderung memproduksi sesuai dengan kreasinya masing-masing, padahal sebenarnya pasar tak menginginkan itu. Hal inilah yang mengemuka dalam dialog interaktif ‘Batik, Warisan Budaya Nusantara dan Solusi di Era Ekonomi Global’ yang digelar Perkumpulan Perempuan Bersanggul dan Berbusana Nusantara (Kumala Nusantara) di Hotel Rich, Senin (23/09/2019).

“Kelemahan dalam batik yakni para industri sebagai produsen pemproduksi tergantung seleranya sendiri, padahal dunia sudah bergeser. Sekarang kita sudah harus berfikir ‘market oriented’, bukan sekedar ‘production oriented’,” ungkap pengamat UMKM, Abidarin Rosadi.

Sebagai produsen, perajin batik harus pandai membaca kebutuhan serta keinginan pasar. Bahkan jika ingin batik ‘go internasionl’ para pelaku juga harus memikirnya segmentasi batik yang dinginkan oleh masyarakat luar negeri.

Ia juga mengatakan, batik harus terus berinovasi. Jika selama ini batik hanya di terdapat pada kain saja, akan lebih baik jika batik mulai dipasarkan pula dengan media seperti kayu atau lainnya. Dengan demikian pembeli memiliki banyak pilihan untuk mencintai batik tak hanya dalam media kain saja.

“Yang selama ini terjadi kebanyakan inovasi hanya ada pada seputar motif dan jenis kain saja yang digunakan. Padalah jika ingin berinovasi bisa juga dengan media lain, kayu misalnya agar batik tetap lestari,” jelasnya.

Pelaku batik tulis konteporer, Evi Rosalina dalam kesempatan ini menyampaikan rasa optimisnya jika peluang perkembangan batik masih terbuka lebar. Apalagi UNESCO telah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi.

Hanya saja saat ini yang banyak berkembang di pasaran justru batik-batik printing maupun sejenisnya. Padahal batik yang dimaksud oleh UNESCO adalah yang diproduksi dengan cara tulis.

"Pelaku batik harus menggunakan dan menyarankan untuk menggunakan batik yang benar-benar batik, bukan hanya batik yang hanya motif. Peluang batik masih besar, karen batik sekarang disuport pemerintah sangat kuat. Hanya saja dalam masyarakat belum ada edukasi tentang batik seperti apa dan printing seperti apa,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Industri Logam, Sandang dan Aneka Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Intan Mestikaningrum mengatakan saat ini jajarannya telah melakukan beberapa program yang terkait dengan indistri batik. Salah satunya yakni pembinaan dan pendampingan bagi para pelaku industri kecil menengah (IKM) di daerah-daerah  sentra batik.

“Para wirausaha kami dampingi dan bantu peralatan, bahkan hingga pemasaran. Jadi kami tidak kurang-kurangnya dalam melakukan pembinaan kepada pelaku batik,” ujarnya.

Disperindag DIY juga mulai melirik pangsa internasional untuk memasarkan batik tanah air. Harapannya kedepan secara khusus upaya ini dapat mengangkat industri batik yang ada di Yogya dan umumnya turut melestarikan eksistensi batik di hadapan dunia. (*)

BERITA REKOMENDASI