Pemasungan Melanggar HAM

BOGOR, KRJOGJA.com – Pemasungan adalah tindakan melanggar HAM.
Oleh karena itu Kementerian Sosial RI melalui Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental “Phala Martha” di Sukabumi HADIR melaksakan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dalam merespon kasus kedaruratan Orang Dengan Gangguan Jiwa/Penyandang Disabilitas Mental korban pasung di Desa Ciomas Kecamatan Tenjo Kabupaten Bogor.

Demikian Tim Respon Kasus Balai Mental Phala Martha dipimpin oleh Kepala Seksi Asesmen dan Advokasi Sosial, Umar Khaerudin. Di Bogor Sabtu (17/10 2020)

Tim Respon Kasus Balai “Phala Martha” mendapatkan informasi dari Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Bogor, bahwa ada satu warga di Kampung Bojong Garut Desa Ciomas yang berinisial BD (38 tahun) mengalami gangguan jiwa sejak 3 tahun yang lalu. Pada saat ini ia mengalami kekambuhan, sering berteriak-teriak, dan telanjang sehingga mengganggu warga sekitar lingkungan tempat tinggal BD.

Keluarga pernah mengupayakan pengobatan kesehatan jiwa sebanyak 3 kali. Pertama rawat jalan, kedua dan ketiga menjalani rawat inap di RSJ, namun perkembangan pemulihannya kurang begitu baik. Walaupun BD masih mengonsumsi obat antipsikotik dari Puskesmas setempat, namun kondisi kesehatan jiwanya tidak berangsur membaik. Ia mengalami kesulitan dalam berbicara, sering teriak-teriak sepanjang malam, dan keluar rumah tanpa busana.

Setibanya di lokasi, Tim Respon Kasus menyaksikan kondisi BD di dalam ruangan yang pergelangan kaki kanannya diikat tali nilon yang ditambatkan di dinding kayu, dalam posisi terlentang tanpa busana di lantai keramik.

“Bukannya kami tega mengikat BD, tapi ini adalah alternatif terakhir yang dapat keluarga lakukan. BD sudah menghancurkan kaca serta isi rumah,” kata Heri, sepupu BD.
“Kami juga khawatir BD akan melukai ibunya yang tinggal berdua dengan BD di rumah yang sudah sangat berantakan ini,” imbuhnya.

Tim Respon Kasus Balai Mental Phala Martha dipimpin oleh Kepala Seksi Asesmen dan Advokasi Sosial, Umar Khaerudin. Bersama Pekerja Sosial, Penyuluh Sosial, dan Pembimbing Psikologis serta Pendamping Disabilitas Mental Kabupaten Bogor melakukan asesmen cepat untuk mengetahui dan memahami permasalahan, kebutuhan dan solusi untuk menolong BD yang kondisi kesehatan mental dan fisiknya yang semakin memburuk.

Tim Balai Mental Phala Martha bersinergi dan berkolaborasi dengan Kepala Seksi Penyandang Disabilitas Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Aparat Desa, Petugas Kesehatan Jiwa Puskesmas Pasar Rebo Kecamatan Tenjo, Babinkamtibmas, Pendamping PDM, TKSK, PSM Pengurus RT/RW dan tokoh masyarakat setempat agar bersama-sama menolong BD. Langkah yang ditempuh yaitu; pembebasan pasung, rapid test COVID-19, dan evakuasi BD untuk mendapatkan perawatan medis ke RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.

Tim Respon Kasus juga memberikan edukasi sosial kepada keluarga dan masyarakat agar tidak melakukan tindakan pemasungan kepada ODGJ.

“Pemasungan adalah tindakan melanggar HAM. Pasung bukanlah solusi, tetapi perawatan medislah yang dibutuhkan BD,” ungkap Umar.
“Pada kesempatan ini, kami meminta persetujuan dari keluarga agar BD dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis di RSMM. Kami juga memberikan bantuan transportasi untuk keperluan BD dalam mengakses layanan kesehatan jiwa,” tambahnya.

Sutama selaku kakak BD menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah peduli dan membantu BD untuk mendapatkan perawatan.

“Kami mewakili keluarga mengizinkan dan akan mendukung sepenuhnya demi kesembuhan BD,” harap Sutama.

Selanjutnya Balai Phala Martha telah sepakat dengan keluarga dan masyarakat serta para stakeholder yang ada di wilayah Kecamatan Tenjo dalam merencakan penanganan BD pasca perawatan medis dari RSMM agar BD nanti dapat menjalani pemulihan yang lebih baik.(ati)

BERITA REKOMENDASI